AYOJAKARTA.COM - Indonesia berada pada kawasan yang memiliki sejumlah sumber gempa dan sewaktu-waktu dapat mengguncang permukaan.
Berulangnya gempa bumi yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia membuat sejumlah orang berasumsi bahwa suatu gempa dapat menyebabkan timbulnya gempa lain.
Dikutip AyoJakarta.com dari YouTube tvOneNews pada Senin (19/12/2022), Daryono dari BMKG membantah hal tersebut.
Baca Juga: Bukan Jawa, Hard Gumay Ramal di 3 Lokasi Ini akan Ada Gelombang Besar Tahun 2023: Banyak yang Teriak
Menurutnya saling picu atau rambatan gempa itu tidak ada.
“Mendapat informasi ada di sini gempa sini gempa, itu bukan karena saling picu bukan karena saling merambat bukan rambatan gempa itu tidak ada,” ujar Daryono.
Di Indonesia terdapat banyak sekali sumber gempa yang berbeda-beda bisa dari mekanismenya ataupun dari kedalaman sumber gempa.
“Itu memang sumber gempanya itu saking banyaknya dan kita menjelaskan terjadi jadi kadang mekanismenya beda, kedalamannya beda, jaraknya juga terpisah jauh,” kata Daryono.
Baca Juga: Inilah 20 Ramalan Jayabaya Tentang Indonesia yang Terjadi di Tahun 2022, Apa Saja?
Daryono menjelaskan alasan Indonesia mempunyai banyak sumber gempa adalah karena memiliki 13 jalur megathrust dan sekitar 300 patahan.
Inilah yang mengakibatkan sumber gempa di Indonesia menjadi kompleks.
“Jadi jalur megathrust di Indonesia ada 13 segmen yaitu di barat Sumatera, Andaman, Aceh, Nias, Mentawai, Bengkulu di Gano, kemudian berbelok Selat Sunda, ke selatan Jawa Tengah, Jawa Timur, Selatan Bali, Selatan NTB sampai Sumba,” ungkap Daryono.
“Kemudian di utara Sulawesi itu ada megathrust Laut Sulawesi. Kemudian kalau patahan itu ada lebih dari 295 yang baru dikenali ini 295 tapi sebenarya masih banyak yang belum dikenali. Itulah Indonesia, sangat kompleks sumber gempanya,” tambahnya.
Untuk status segmen atau zona megathrust, Daryono mengatakan statusnya adalah aktif.
“Kawasan selatan itu kawasan yang mengalami defisit slip ya, artinya terjadi perlambatan proses penunjaman. Ini indikasi dari tunjaman yang tertahan, seperti direm,” ujar Daryono.
Jika batuan tidak mampu lagi menahan tunjaman tersebut dan tekanan sudah melampaui batas elastisitasnya maka akan terjadi patahan.
Kemudian jika itu terjadi pada dasar laut maka akan terjadi tsunami.
“Nah saat patah itulah, di atasnya air laut, terjadilah tsunami,” kata Daryono.
Diketahui bahwa wilayah Selatan Jawa dan Sumatera adalah wilayah rawan gempa bumi dan tsunami.
Megathrust Selatan Jawa dan Sumatera adalah pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Eurasia (Sunda Block) di selatan Jawa Sumatera (Samudera Hindia) di mana Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau bisa juga disebut subduksi.
Benturan antara dua lempeng itu menjadi salah satu penyebab sering berulangnya gempa bumi pada wilayah tersebut.
Menurut pengamatan Daryono dari gempa-gempa berkekuatan besar yang pernah terjadi sebelumnya terdapat gempa yang lebih kecil sebagai gempa pembuka.
“Pokoknya sebelum gempa besar yang kita amati terjadi di Aceh, Tohoku tahun 2011 kemudian yang terjadi di Chili, kemudian di Meksiko, itu gempa-gempa pembuka selalu muncul sebelum gempa besar,” ucap Daryono.***