TEBET, AYOJAKARTA – Belakangan ini, media massa apalagi media sosial diramaikan tentang perilaku anak sepeninggal orang tuanya yang dikenal sebagai tokoh agama.
Lepas dari soal itu, akun Twitter milik Profesor Nadirsyah Hosen, cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) yang mengajar di Monash University, Australia, bercerita tentang status anak dan orang tua dalam khasanah nahdliyin alias jamaah NU.
“Gus Dur lebih nyaman menjadi Gus seterusnya, seolah mengisyaratkan bhw yg Kiai itu bapaknya, bukan Durrahman. Gus Mus jadi Rais Am pun ttd surat resmi hanya mau ditulis namanya tanpa gelar Kiai. Kiai beneran ya gini, malah gak pengen dipanggil Kiai. Simak penjelasan Mbah Sahal.”
Demikian kicauan akun Twitter-nya, @na_dirs, pada Selasa 28 September 2021. Akun yang memiliki 391,1 ribu follower itu dikelola oleh admin yang menyebut Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen.
Melengkapi kicauannya tersebut, @na_dirs memajang cuplikan video pendek. Rekaman itu berisi tanya jawab almarhum Kiai Sahal Mahfudz, Rois Aam NU periode 1999—2014, tentang siapa itu kiai yang dipajang akun @mbahyaiku.
Kicauan @na_dirs kemudian mendapatkan komentar dari warganet antara lain @bahrulannafi.
“Bukannya karena tidak kuat Gus ya? Karena kata Gus Dur, kalau Kyai itu harus sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, kalau Gus, sedikit-sedikit makan, sedikit-sedikit tidur, sedikit-sedikit bicara.”
Akun @na_dirs membalas kicauan ini dengan tertawa. “Hahahahha.”