JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah harus lebih serius menangani persoalan masker yang langka di pasar dan harganya yang melangit.
Di tengah masyarakat, mereka yang paling menderita atas kelangkaan dan mahalnya harga masker tentu saja para pasien dengan penyakit kronis dan berkebutuhan khusus.
“Ada atau tidak ada wabah virus corona, kami penyintas gagal ginjal, pasien cuci darah, khususnya yang menggunakan terapi cuci darah lewat perut dan transplantasi ginjal, sangat memerlukan masker setiap harinya," kata Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Samosir, dalam siaran persnya.
Ia jelaskan bahwa rata-rata para pasien cuci darah menggunakan sekitar 5 masker per hari. Bila prosedur tersebut dilanggar maka bisa berakibat rentan terkena infeksi oleh bakteri atau virus.
Menurut Tony, dari sebelum virus corona dinyatakan ada di Indonesia, para pasien cuci darah sudah lebih dulu menjerit karena langka dan mahalnya harga masker. Apalagi di saat ini, ketika harga masker semakin tidak terkendali.
“Setiap hari pasien cuci darah lewat perut (CAPD) membutuhkan masker minimal sebanyak 5 buah. Ketika memasukan cairan dialisis ke rongga perut (rongga peritoneum) lewat kateter dan mengeluarkan cairan hasil proses dialisis, si pasien harus memakai masker untuk mencegah infeksi. Begitu juga pasien transplantasi ginjal, mereka ini sangat rendah daya tahan tubuhnya. Sangat mudah tertular penyakit infeksius,” jelasnya.
Tony mengungkapkan, para anggota KPCDI harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli masker.
“Dulu kami beli masker di harga Rp20.000 per box. Sekarang mencapai ratusan ribu rupiah. Jumlah pengeluaran harian untuk masker sebesar itu sangat berat buat kami. Selain seumur hidup, biaya lainnya sebagai penyintas gagal ginjal yang tidak dilindungi BPJS Kesehatan sangat banyak,” ungkap Tony.
"Kalau kami tidak memakai masker karena tidak punya duit, risikonya rentan terkena infeksi. Bila terinfeksi sama saja akan membunuh kami sebelum virus corona menyerang kami,” tambahnya.
Tony Samosir berharap para penegak hukum merazia para penimbun masker. Juga meminta pemerintah menjamin peningkatan produksi masker dan mengatur harga tetap stabil.
“Kami juga mendesak Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota agar membagikan masker secara gratis kepada para penderita penyakit kronis dan berkebutuhan khusus, di mana mereka memiliki daya tahan tubuh yang rendah dan rentan tertular penyakit infeksi,” tuturnya.