Komunitas

Sejarah dan Jalan Panjang Menjadi Jakmania Garis Keras

Oleh: Admin Selasa 03 Mar 2020, 16:41 WIB
Pendiri Jakmania Garis Keras, Irlan Alarancia. (Ayojakarta.com/Hendy Dinata)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sepak bola dan suporter bagai dua sisi koin. Satu dan lainnya tidak terpisahkan. 

Begitu juga berlaku dengan Persija Jakarta dan The Jakmania. 

The Jakmania lahir pada tahun 1997 dengan nama resmi The Jakarta Mania (Jakmania), yang digagas oleh Diza Rasyid Ali, manajer Persija saat itu.

Pada awal berdirinya, The Jakmania hanya beranggotakan 100 orang. Pengurusnya 40 orang, diketuai oleh Gugun Gondrong.

Seiring habisnya masa kepengurusan, Gugun digantikan Ir. T. Ferry Indrasjarief yang lebih akrab disapa Bung Ferry. Masa tugas Bung Ferry di periode 1999-2001. Dia kembali dipercaya untuk memimpin The Jakmania periode 2001-2003, dan 2003-2005.

Pada masa awal kepemimpinan Bung Ferry, mencuatlah nama Irlan Alarancia. Irlan resmi menjadi anggota The Jakmania pada tahun 2000. Mimpinya saat itu cuma satu, menggerakkan orang-orang Jakarta untuk mendukung tim Persija secara total dan militan.

Berangkat dari motivasi itulah Irlan mendirikan komunitas pendukung fanatik Persija yang dinamakan Garis Keras. 

Garis Keras diresmikan sebagai Korwil resmi The Jakmania pada tahun 2002. Tapi, untuk mencapai itu dibutuhkan pertimbangan panjang. Alasannya, Garis Keras bukan sebuah wilayah melainkan komunitas yang anggotanya berasal dari berbagai wilayah.

"Awalnya mau jadi suporter Persija yang militan, baik kandang maupun tandang, kapan pun dan dimana pun. Sempat ditolak menjadi Korwil resmi pada 2001, karena bukan sebuah wilayah. Selama setahun terus berjalan tanpa Korwil resmi dan menumpang ke Korwil lain," kata Irlan saat Ayojakarta bertandang ke markasnya.

Irlan menceritakan sejarah terbentuknya Garis Keras. Mulai dari namanya. Awalnya dia terpikir beberapa opsi nama, seperti Holigan Jakarta, Holigan Jakmania, Ultras Jakarta, atau Ultras Jakmania. Namun karena unsur-unsur asingnya terlalu kental, nama Garis Keras dipilih agar nuansa lokalnya lebih terasa.

Perbincangan Irlan dengan Yoni, teman SMA-nya, menjadi awal berdirinya Garis Keras. Jumlah anggotanya berkembang, walau tidak signifikan, kala Irlan bekerja di sebuah perusahaan dan "meracuni" teman-teman kerjanya untuk bergabung. Saat itu, Garis Keras baru memiliki 8 orang anggota.

Seiring berjalannya waktu, Garis Keras terus bertumbuh dan semakin memikat para penggila Persija. 
Namun, bukan perkara mudah untuk benar-benar sah menjadi anggota Garis Keras. 

Para calon anggota harus mengikuti program GK Camp sebelum dikukuhkan menjadi anggota Garis Keras.

"Menjadi anggota Garis Keras tidak mudah. Calon anggota harus dibentuk karakternya di alam melalui kegiatan GK Camp. Selain prosesnya rumit, calon anggota juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengikuti kegiatan tersebut," katanya.

Irlan juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan perekrutan anggota Garis Keras melalui kegiatan GK Camp dimulai pada tahun 2011, ketika Garis Keras menginjak usia 9 tahun. Sebanyak 66 peserta mengikuti kegiatan GK Camp selama 3 hari dengan biaya Rp 100.000 saja per orang.

Tapi, mereka yang sudah mengikuti GK Camp belum boleh langsung mengenakan seragam serba hitam kebanggaan Garis Keras. Mereka masih harus mengikuti pertandingan away Persija sebanyak 5 kali, demi izin mengenakan seragam kebesaran.

"Setelah mengikuti kegiatan GK Camp, anggota masih harus ikut pertandingan away sebanyak 5 kali, agar dapat mengenakan seragam kebesaran Garis Keras," tegasnya.

Saat ini, Garis Keras telah memiliki 1.800 anggota di 32 wilayah, termasuk Kalimantan, Bali, Lampung, Indramayu, Majalengka, Nganjuk, dan kota-kota lain.

Selain mendukung Persija di lapangan hijau dan GK Camp, Garis Keras juga memiliki sejumlah program rutin yang bernuansa religus dan sosial. Sebut saja pengajian bulanan, GK kurban, donasi dan santunan kepada anak-anak yatim.

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom