Kuliner

Susah Cari Kerja Malah Jadi Pengusaha, Athiya Cake Bersyukur Diselamatkan KUR BRI

Oleh: Admin Sabtu 30 Nov 2024, 16:35 WIB
Dari cake simpel bolu ori seharga Rp 35 ribuan, basic bolu pisang di harga Rp 55 ribuan, sampai produk terlaris fudgy brownies seharga Rp 65 ribuan. Dalam sehari ia meraup omzet Rp 250-350 ribuan atau pendapatan kotor Rp 7,5-10 jutaan per bulan.

AYOJAKARTA.COM -- Rika Muflihah tidak menduga kesulitannya dalam mencari kerja yang ideal justru menuntun nasibnya jadi pengusaha kuliner. Ia sudah tiga kali mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang membuatnya leluasa untuk mengembangkan bisnis.

Selesai kuliah dan menikah pada tahun 2015, Rika pernah mencoba beberapa kali peruntungan karier di dunia pendidikan. Dari Karawang sampai pindah ke Tasikmalaya, pendapatan yang cukup belum kunjung ia dapat.

Di masa-masa awal pernikahan ia pernah menjadi bagian administrasi di TK Al Furqon Desa Cibuaya, Karawang.

Lantas ia memiliki seorang putri dan pindah ke Tasikmalaya. Ia mencoba sekali lagi peruntungan profesi dengan mengajar Bimbingan Belajar (Bimbel). Namun gaji yang didapatkan masih kurang dari kebutuhan.

Seiring susah payahnya menemukan pekerjaan yang layak secara finansial, ia banyak bereksperimen dalam bidang yang sesuai bakatnya, kuliner.

"Kalau cari pekerjaan yang layak itu, kan, karena sudah beres kuliah. Sayang ijazah kalau tidak dipakai kerja. Tapi ternyata sulit cari kerja yang sesuai keinginan. Jadi sambil terus mencoba-coba pekerjaan itu diasah juga keterampilan mengolah kue. Harapannya, mimpinya, siapa tau bisa jadi penghasilan," ungkap wanita kelahiran 1990 itu.

Pada 2018 ia mencoba mengolah dan menjual sendiri cheese cake. Memasarkan ke kerabat dan teman dekat. Pemesanan cukup banyak, tapi sayang usahanya harus terhenti sekitar dua tahun karena kelahiran putri kedua. 

"Setelah coba-coba bikin dan jual, harus istirahat dulu, karena fokus mengasuh anak. Mau bagaimana lagi, ya, ibu muda kudu seimbang mengurus keluarga dan mencoba wirausaha," lanjutnya.

Rika sempat pesimis sanggup melanjutkan wirausahanya, sebab pada awal tahun 2020 Pandemi Covid-19 mulai menutup berbagai sektor usaha di Indonesia. Lockdown berlaku di pelbagai wilayah. Ia khawatir banyak orang kehilangan pekerjaan, fokus utama masyarakat ialah untuk memenuhi kebutuhan primer, dan minat terhadap kudapan jadi berkurang.

Siapa sangka, dugaannya salah. Di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, saat Rika kembali menawarkan produk olahan kuenya di grup aplikasi chat, justru antusiasme tetangga lebih banyak dari yang diharapkan.

"Kayaknya karena orang-orang di rumah terus, ya, tidak bisa jalan-jalan cari kuliner, jadi yang pesan kue lewat chat lebih banyak. Mereka pesan, kita antar. Sesederhana itu prosesnya tidak banyak mengobrol, karena jaga jarak harus patuh protokol kesehatan," paparnya.

Makin lama produknya kian terkenal, variasi pesanan pun terus bertambah. Hanya saja ia tak bisa mengembangkan bisnis untuk pendapatan lebih besar. Kendalanya sering kali kekurangan bahan olahan dan tidak tersedia peralatan. 

Jadi di masa pandemi itu, ia memberanikan diri mengajukan KUR BRI dengan nama usaha Athiya Cake. 

"Puji syukur waktu itu dapat untuk menambah modal usaha Rp 10 juta," kenangnya.

Setelah KUR BRI cair, rezekinya kian deras mengalir. Tentu saja dibarengi dengan sikap giat dan konsistensi.

Kini setiap pagi, ia bangun sekitar pukul 04:00 WIB. Sembari mengasuh anak bungsunya, mempersiapkan sekolah anak pertamanya, memasak untuk suami, dan banyak lagi kesibukan lainnya, ia mengolah kue-kue sampai pukul 17:00 WIB.

Dari cake simpel bolu ori seharga Rp 35 ribuan, basic bolu pisang di harga Rp 55 ribuan, sampai produk terlaris fudgy brownies seharga Rp 65 ribuan. Dalam sehari ia meraup omzet Rp 250-350 ribuan atau pendapatan kotor Rp 7,5-10 jutaan per bulan.

"Sehari biasanya dibatasi kuotanya hanya 5-7 loyang. Sebab tenaga juga, harus mengasuh anak juga. Jadi produksinya made by order, tidak ada ready stock. Sebab itu yang beli hari ini berarti sudah pesan dari dua hari sebelumnya," tambah Rika.

Athiya Cake miliknya kini telah berjalan lebih kurang delapan tahun. Sudah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) pun sertifikasi halal.

Bagi Rika, wirausaha yang ia kembangkan saat ini ialah berkah untuk keluarga. Ia bisa membantu pendapatan suami dan berbagi beban agar saling meringankan. Gaji suami fokus untuk membayar angsuran dan kebutuhan rumah tangga, pendapatan istri untuk biaya pendidikan anak dan tabungan keluarga.

Ia merasa beruntung menjadi salah satu bagian pelaku Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mendapatkan akses modal usaha dari perbankan. Satu kucuran dana yang mengubah peluang penghasilan secara signifikan.

"Bersyukur sekali pastinya, sebab pas dapat KUR BRI itu di waktu yang tepat. Sekarang mulai terasa hasilnya, banyak manfaatnya," sambungnya.

Dalam keterangan resmi yang diterima Ayojakarta pada 28 September 2024, Sunarso (Direktur Utama BRI) memaparkan salah satu pendongkrak utama pertumbuhan ekonomi nasional ialah UMKM. Inilah mengapa BRI konsisten meningkatkan penyaluran KUR, demi memastikan pelaku UMKM di seluruh wilayah Indonesia bisa mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnis.

Selain akses pembiayaan inklusif, BRI pun memberikan edukasi pendampingan. Tujuannya untuk menularkan pengetahuan serta mengembangkan skill pengusaha profesional.

Rika mengaku semringah dirinya bisa menjadi bagian dari program ekonomi yang diakselerasi BRI ke seluruh pelosok negeri. Ia bersyukur bidang usaha yang diimpikannya mendapat kemudahan akses modal lewat KUR.

"Seperti kemudahan yang saya dapatkan, semoga semakin banyak ibu-ibu pelaku UMKM yang punya tabungan di BRI mendapatkan undangan dan akses awal untuk penyaluran bantuan," harapnya menutup pembicaraan. (*)

Reporter Admin
Editor Aris Abdulsalam