Kuliner

Sering Terlihat di Meja Penjual Takjil selama Ramadhan atau Hari Istimewa, Begini Nilai Filosofis dari Ketan

Oleh: Karseno AJ Kamis 13 Mar 2025, 21:07 WIB
Bukan saja terlihat saat Ramadhan, menu Ketan sering terlihat dalam perayaan bahkan selamatan.

AYOJAKARTA.COM -- Salah satu menu khas hidangan masyarakat Nusantara saat menggelar perayaan adat, selamatan hingga ritual keagamaan seperti puasa Ramadhan adalah Ketan.

Terbuat dari beras Ketan yang ditumbuk, keberadaan Ketan dalam acara khusus tertentu seperti awal dan akhir Ramadhan menjadi salah satu syarat tidak tertulis.

Bukan saja terlihat saat Ramadhan, menu Ketan sering terlihat dalam perayaan seperti pertunangan, pernikahan, kerja bakti bahkan selamatan.

Baca Juga: Menu Buka Puasa Sederhana: Sosis Gulung Mi dan Es Buko Pandan, Takjil Gurih dan Segar Pelepas Dahaga

Bagi masyarakat Nusantara, olahan Ketan yang ditumbuk hingga sehalus mungkin akan semakin meningkatkan kualitas hasil panganan.

Meski hasil olahan Ketan dapat berupa Uli, Rondo Royal atau Ketan dengan taburan Serundeng, Ketan ternyata menyimpan nilai filosofis yang di luar dugaan.

Ketan, menurut kebanyakan masyarakat Nusantara memiliki nilai Yen wis RaKET, ojo nganti ngulon-ngeTAN yang secara tekstual berarti jika sudah Dekat jangan ke Barat-Timur.

Mengacu pada epistemologis tersebut, Ketan secara lebih mendalam memiliki makna sebagai pemersatu yang berfungsi untuk saling merekatkan suatu hubungan.

Baca Juga: Menu Takjil Favorit Setiap Buka Puasa, Begini Makna Tersembunyi dari Kuliner Ramadhan Kolak

Agar kualitas dari hubungan dapat semakin langgeng, siapapun yang terlibat dalam suatu jalinan relasi baik individu atau sosial agar tidak bersikap Plin-Plan.

Kata Ngulon-Ngetan atau Barat-Timur yang diterjemahkan sebagai Plin-Plan alias inkonsistensi, menggambarkan pentingnya bersikap jujur dalam hubungan.

Dengan adanya menu Ketan pada setiap momen perayaan tertentu, hal tersebut menjadi isyarat agar generasi penerus bersikap setia pada jalinan silaturahmi.

Kata Plin-Plan dapat juga diartikulasikan dengan melakukan perbandingan-perbandingan yang menyebabkan potensi perpecahan terjadi dalam sebuah hubungan.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Jakarta saat Ramadhan, dari Benhil hingga Masjid Istiqlal

Disadari atau tidak, salah satu akar persoalan yang banyak menyebabkan terjadinya perselisihan dalam sebuah hubungan adalah karena minimnya Ketan atau Nilai Perekat.

Melalui berbagai jenis menu panganan yang terbuat dari bahan dasar Ketan, secara implisit leluhur Nusantara sedang mengingatkan pentingnya kembali ke akar budaya.

Untuk membuat kualitas Ketan menjadi semakin baik dan optimal, hal yang perlu dilakukan adalah dengan memperbanyak jumlah tumbukan beras sehingga semakin halus.

Hal serupa juga perlu sama-sama dilakukan oleh setiap individu yang terlibat dalam sebuah relasi atau hubungan, baik berupa pertemanan, pernikahan atau kekeluargaan.

Baca Juga: Ide Jualan Takjil Modal Sedikit, Resep Sempol Mie: dari 1 Bungkus Mie Bisa Untung Banyak

Tumbukan pada beras Ketan merupakan gambaran akan pentingnya manajemen konflik yang akan terjadi dalam setiap jenis hubungan.

Agar menghasilkan menu kuliner berbahan dasar Ketan yang gurih dan menyehatkan saat dipangan, diperlukan sikap menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

Semakin mampu seseorang atau setiap butir beras ditumbuk atau ditempa masalah, maka Ketan akan menjadi semakin halus atau melahirkan sosok individu yang tulus.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil