AYOJAKARTA.COM - Ronny Talapessy yang merupakan kuasa hukum Bharada E terkait kasus Ferdy Sambo kembali mejadi sorotan.
Kali ini Ronny Talapessy menyampaikan adanya kejanggalan saat pengusutan kasus Ferdy Sambo yang menyeret nama kliennya, Bharada E.
Pengacara Bharada E, Ronny Talapessy mengatakan mengenai skenario kasus Ferdy Sambo ini sudah terlalu jauh.
Dikutip AyoJakarta dari kanal YouTube metrotvnews, dalam sebuah acara yang menghadirkan Ronny Talapessy sebagai salah satu bintang tamu.
Baca Juga: Muncul Dukungan Untuk Bharada Richard Eliezer agar Diterapkan Pasal 51 Ayat 1 KHUP, Ini Isinya
Awalnya pembawa acara bertanya kepada Ronny Talapessy terkait peluru yang sudah disita adalah milik senjata Bharada E.
"Jadi semua peluru yang disita itu adalah pelurunya dari senjata Ichad ya?"
Kemudian Ronny Talapessy menjawab tentang kecurigaannya terhadap perbedaan jumlah peluru di senjata Richard Elizer, dan ketika sudah menjadi barang bukti.
"Richard mengisi pistol itu 15, menembakkan kan disampaikan 3-4 kali," jawab Ronny.
"Tetapi ketika Richard Elizer di rumah Duren Tiga, saya menanyakan 'kamu menyerahkan senjata itu kepada siapa?' Disebutlah (Kombes S dari Propam)" tambah Talapessy.
Baca Juga: Semakin Nyata, Pakar Forensik Sebut Brigadir J Korban Kekerasan Seksual, Ini Alasannya!
Kemudian Ronny mengungkap saat ia membaca BAP, dijelaskan saat menerima senjata tersebut jumlah pelurunya ada 12.
"Kemudian di dalam BAP, saya membaca bahwa dalam BAP dijelaskan ketika menerima senjata tersebut pelurunya ada 12," terangnya.
Akan tetapi, ketika dijadikan alat bukti, menurut Ronny peluru tersebut tiba-tiba berkurang jumlahnya.
"Kok tiba-tiba ketika menjadikan alat bukti, barang bukti kok pelurunya ada 8 punya Richard Elizer?" tutur Ronny dengan heran.
Ronny merasa bahwa skenario pembunuhan Brigadir J yang melibatkan kliennya itu sudah terlampau jauh.
"Ini kan sudah di skenario kan sudah terlalu jauh," ungkapnya.
Dirinya berharap, Richard Eliezer sebagai justice collaborator yang membuka kasus ini, jangan lantas dikorbankan.
Karena menurutnya, hal itu tentu tidaklah adil bagi Bharada E.
Pun ia menyebutkan apabila masyarakat mengetahui kebenaran sebenarnya, pastilah akan kecewa dan marah.***