Metropolitan

Dinilai Kontroversial, Pemberian Nama Jalan di Jakarta dengan Nama Tokoh Pendiri Turki Diprotes

Oleh: Aini Tartinia Senin 18 Okt 2021, 15:07 WIB
Ilustrasi Jalan

GAMBIR, AYOJAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DKI Jakarta menyorot keinginan pemerintah memberikan nama jalan di ibu kota dengan tokoh pemimpin Turki, Mustafa Kemal Attaturk.

Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Khoirudin menilai salah satu tokoh pemimpin Turki itu kontroversial, khususnya bagi dunia Islam. Menurutnya, keinginan pemberian nama jalan dengan tokoh Mustafa itu harus dikaji ulang.

“Jika memang sangat merugikan dan menyakiti kaum muslimin, lebih baik dibatalkan pemberian nama jalan tersebut,” ujar Khoirudin dalam keterangan tertulisnya, Senin 18/10/2021).

Anggota DPRD DKI Jakarta ini menjelaskan rekam jejak sejarah sosok Mustafa Kemal Attaturk dinilai sangat metugikan kaum muslim dan peradaban manusia yang tidak menghargai HAM.

“Dia juga membuat kebijakan merubah masjid Hagia Sofia menjadi museum, menggantu adzan berbahasa arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, kantor-kantor yang betsifat kepemerintahan,” paparnya.

Dia berujar, mungkin sosok Mustafa Kemal Attaturk sebagian memang masih dicintai rakyat Turki, tetapi tidak bagi umat Islam dunia, khususnya di DKI Jakarta.

“Masih banyak pahlawan lain yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia untuk diabadikan jadi nama jalan di ibu kota,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, rencana pergantian nama itu mulanya disampaikan oleh Duta Besar Indonesia di Ankara, Muhammad Iqbal. Dikabarkan, pihak kedutaan telah memberikan data ihwal panjang jalan dan karakter jalan yang namanya akan diganti ke Pemprov DKI Jakarta.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyebut nama presiden pertama Indonesia, Soekarno, akan digunakan sebagai nama jalan di depan kantor Kedutaan Besar RI di Ankara.

“Pemerintah Turki telah menganugerahkan nama jalan di depan kantor KBRI Ankara yang baru dengan nama Jalan Ahmed Soekarno,” kata Retno dalam konferensi pers, Selasa (12/10/2021) malam.

Reporter Aini Tartinia
Editor Husnul Khatimah