TEBET, AYOJAKARTA – Vaksinasi Covid-19 pada anak usia 12-17 tahun di DKI Jakarta terus digeber hingga hari ini. Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta per 11 Agustus 2021, Ibu Kota mencatatkan sebanyak 718.199 anak usia 12-17 tahun sudah menjalani vaksinasi.
Data tersebut menjelaskan, masih ada 105.582 anak yang belum divaksin. Kendati begitu, vaksinasi anak di DKI Jakarta setidaknya telah menyentuh angka sebanyak 85,20% dari total populasi anak-anak usia 12-17 tahun.
Sebagai data rincinya, Kementerian Kesehatan mencatat vaksinasi anak usia 12-17 tahun di DKI Jakarta bahwa sebanyak 73,45% anak sudah mencapai vaksin dosis pertama. Lalu ada sebanyak 13,58% anak sudah tervaksin penuh atau sudah menjalani dua kali vaksinasi Covid-19.
“Target kita pertengahan Agustus atau 17 Agustus, target sudah tervaksin semua untuk seluruh anak usia 12-17 tahun,” ujar Plt. Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Slamet, dalam paparannya bersama Komunitas Lapor Covid-19 yang dikutip Ayojakarta, Kamis 12 Agustus 2021.
Lalu, untuk data vaksinasi pendidik di DKI Jakarta sudah dilakukan sejak Maret 2021. Data dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta per 5 Agustus 2021, sudah ada sebanyak 119.457 atau 83,89% yang terdiri dari guru PNS maupun non-PNS telah melakukan vaksinasi dosis pertama.
Kemudian untuk guru yang melaksanakan vaksinasi tahap kedua sudah ada sebanyak 99.106 orang atau 69,60%. DKI Jakarta memproyeksi ada total 142.403 pendidik yang akan divaksin Covid-19.
Terkendala Perpanjangan PPKM Level 4
Memiliki presentase angka vaksinasi anak dan guru tidak membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka sedikit celah untuk Pertemuan Tatap Muka (PTM) terbatas.
Melalui keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 974 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4 Corona Virus Disease 2019, menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar di seluruh satuan pendidikan masih menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau masih dilakukan secara daring/online.
Adapun pemerintah pusat juga hanya mengizinkan penerapan PTM terbatas untuk Jawa-Bali ketika wilayah tersebut masuk di level 2.
Percaya Diri Untuk Buka Sekolah
Memiliki angka vaksinasi yang cukup tinggi di kalangan anak sekolah dan pendidik, membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta cukup percaya diri untuk membuka sekolah. Slamet menuturkan, pihaknya percaya diri untuk membuka sekolah jika sudah diperbolehkan.
“Ketika nanti diperbolehkan sekolah buka, tentu kita sangat percaya diri ketika memasuki tahapan itu. Namun untuk teknis kita menunggu kebijakan setelah dianggap memungkinkan,” ujar Slamet.
Dia membeberkan, kesiapan DKI Jakarta dalam membuka sekolah rupanya didapat melalui pembelajaran dari dua kali uji coba PTM yang telah dilakukan DKI Jakarta. Dua uji coba PTM itu dilakukan ketika varian Delta belum menyebar di tanah air.
Ada Faktor Lain PTM DKI Jakarta Jadi Terkendala
Slamet menyampaikan faktor-faktor akademis sudah dilakukan pihaknya untuk membuka sekolah di tengah pandemi Covid-19. Faktor-faktor tersebut disebut Slamet antara lain pelatihan penyiapan guru dalam pembelajaran di era Covid-19 dan fasilitas sekolah terhadap sarana prasarana masa pandemi.
Namun, dia membeberkan pihaknya memiliki faktor lain yang menjadi pertimbangan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Pertimbangan tersebut yaitu faktor bahwa sebagian masyarakat masih abai terhadap keselamatan bersama.
“Ini kembali pada perilaku sebagian dari kita yang masih abai terhadap keselamatan bersama. Mungkin kalau keselamatan sendiri mereka sudah punya, tapi keselamatan bersama tidak,” papar Slamet.
Alarm Darurat Turunnya Potensi Belajar Anak
Tim Koalisi Komunitas Warga Lapor Covid-19 melakukan sebuah survei terhadap 23.015 responden pada 30 April-15 Mei 2021 soal waktu yang tepat untuk membuka sekolah di DKI Jakarta.
Hasilnya adalah sebanyak 40,45% responden ingin sekolah dapat dibuka jika angka penularan Covid-19 di Ibu Kota sudah benar-benar turun. Lalu sebanyak 37,43% responden menyatakan ingin sekolah dibuka jika ketika pandemic sudah selesai.
Lalu ada 11,05% responden mengatakan sekolah dapat dibuka jika anak sudah divaksin Covid-19. Kemudian, ada sebanyak 8,06% yang ingin anaknya masuk sekolah sekarang juga saat penularan masih tinggi.
“Ini artinya kita bisa melihat bahwa orang tua memang punya fokus dan perhatian pada kesehatan dan keselamatan anaknya,” ujar Peneliti Komunitas Lapor Covid-19 Dicky Pelupessy.
Salah satu komunitas guru menanggapi hasil survei tersebut. Elisabeth Indah Susanti dari Yayasan Guru Belajar menyampaikan keresahan para guru yang merasa ada penurunan keterlibatan dalam kelas dan pengumpulan tugas dari anak-anak didiknya.
Penurunan potensi belajar itu, kata Elisabeth, terjadi di seluruh sekolah baik negeri maupun swasta. Penurunan motivasi belajar tersebut diduga oleh pihaknya karena adanya mix-match curriculum.
“Maksudnya adalah ada gap antara kurikulum yang digunakan dengan actual learning based murid-murid. Apakah ada gap kurikulum dengan kemampuan muridnya, apakah ada gap antara kurikulum dengan kebutuhan murid yang sebenarnya,” tutur Elisabeth.