AYOJAKARTA.COM – Kontestasi politik jelang Pilkada Jakarta mulai hangat, usai Cawagub pasangan nomor urut Satu membuat pernyataan kontroversial tentang Janda Kaya.
Dalam salah satu acara bersama para relawan, Suswono yang mendampingi Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta sempat berucap bahwa Janda Kaya untuk menikahi pengangguran.
Meski susah meminta maaf, pernyataan Suswono perihal Janda Kaya membuat dinamika Pilkada Jakarta menjadi semakin disorot media.
Dampak sosial dan politis dari pernyataan Janda Kaya yang disampaikan cawagub Suswono, Sejumlah spekulasi kemudian bermunculan.
Sehubungan dengan kontroversi tersebut, Diky Chandra yang merupakan Wakil Bupati Garut Periode 2009-2013 memberi tanggapan.
Menurut Diky, kemenangan merupakan hal yang wajar dan bahkan paling diidamkan oleh setiap politisi saat berada di tengah-tengah kontestasi.
Namun demikian, Diky menilai tidak sepatutnya keinginan untuk menang mengalahkan pikiran sehingga pernyataan tetap dapat dikendalikan.
“Yang salah itu justru ketika keinginan menangnya itu mengendalikan, kalau bisa mengendalikan keinginan, saya yakin bisa lebih fokus,” ungkap Diky.
Baca Juga: Harga Sama! Xiaomi 15 vs Vivo X200, Mending Mana? Cek Perbedaannya di Sini
Karena itu Diky berharap agar setiap calon pejabat publik tidak keluar dari ketentuan, saat berada di tengah keramaian.
Berdasarkan pengalaman selama menjabat, Diky menilai pernyataan cawagub Suswono soal Janda Kaya lahir karena improvisasi atau respon spontan.
Meski tidak sepenuhnya memahami pernyataan Suswono tersebut muncul karena ingin bercanda atau bukan, Diky mengangggap pengendalian kesadaran sebagai kunci.
Disamping mengedepankan kesadaran, Diky juga berharap agar di masa depan pendidikan politik kepada publik juga perlu disiapkan.
Selain karena merupakan suatu kebutuhan ideologis, politisi juga perlu bersikap lebih arif agar pragmatisme pemilih yang selama ini terabaikan mengalami perubahan.
Berbeda pandangan dengan Diky Chandra, Pengamat Politik Ahmad Khoirul Umam menganggap peran Tim Sukses perlu ditingkatkan.
Baca Juga: Lebih Portable Dibanding Laptop, 5 Alasan untuk Membeti Tablet!
Kekuatan dan kharisma seorang politisi, menurut Umam bukan hanya terletak pada figur personal tetapi juga kebersamaan tim.
Sehingga tidak mengherankan apabila elektabilitas paslon dapat mengalami perubahan dan bahkan berubah menjadi hujatan akibat terpeleset oleh suatu pernyataan.
“Barangkali Pak Suswono tidak meniatkan itu sebagai materi guyonan yang ternyata tidak lucu, ini memiliki sensitifitas politik yang berimplikasi kemana-mana,” jelasnya.
Karena dapat menjadi penentu langkah politik, Umam menilai peran Tim Sukses setiap paslon sangat besar sehingga patut diperhatikan.
Tanpa dukungan Tim Sukses yang handal, pernyataan para politisi bisa membawa dampak yang besar terhadap perolehan elektabilitas di Pilkada Jakarta.
“Ini juga persoalan serius bagi parpol, perlu ada filter secara substansi,” pungkasnya. ***