Metropolitan

Soal Masalah Ketimpangan Sosial, Kun Wardana Janji Naikkan UMP DKI Jakarta

Oleh: Nadya Donna Putri Selasa 29 Okt 2024, 16:28 WIB
Dharma Pongrekun dan R Kun Wardana

AYOJAKARTA.COM - Debat Pilgub Jakarta 2024 telah diadakan dua kali. Debat kedua pada tanggal 27 Oktober lalu.

Pada debat kedua tersebut ada banyak sub tema yang dibahas. Tema besarnya adalah ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Salah satu permasalahan yang dibahas dalam Debat Pilgub Jakarta 2024 Kedua adalah ketimpangan sosial.

Ketimpangan sosial adanya perbedaan masyarakat atau warga dari segi banyak hal, salah satunya ekonomi.

Kun Wardana, calon wakil gubernur Jakarta nomor urut 2, mempunyai beberapa solusinya untuk masalah ketimpangan sosial ini.

Berikut penjelasan Kun Wardana dikutip dari YouTube KOMPASTV pada Selasa, 29 Oktober 2024.

Kun Wardana mengatakan pertama, ia bersama Dharma Pongrekun akan memberikan setiap lapangan pekerjaan untuk warga Jakarta.

Baca Juga: Upgrade yang Manis! Inilah Spesifikasi Samsung A26 5G yang Akan Rilis di Desember 2024

“Kita (Dharma-Kun) perlu memberikan lapangan pekerjaan bagi semua warga DKI Jakarta, itu yang pertama,” ujarnya.

Calon Wakil Gubernur Jakarta nomor 2 tersebut juga akan memastikan dan memberikan warga agar penghasilannya bisa mendapatkan upah minimum provinsi.

Namun, tidak hanya melihat pada upah minimum provinsi saja, melainkan perlu disesuaikan dengan survei kebutuhan hidup layak.

“Kedua, dia (warga Jakarta) harus mendapatkan pendapatan yang layak, yaitu dengan UMP, disesuaikan dengan survei kebutuhan hidup layak,” lanjutnya.

Baca Juga: Review ZTE Blade A35: Hp Flat Super Murah Rp900 Ribuan dengan Spesifikasi dan Performa Handal

Kemudian, Kun Wardana menjelaskan alasannya mengapa menggunakan survei kebutuhan hidup layak.

Apabila hanya berdasarkan upah minimum provinsi saja tanpa survei, maka ia khawatir warga tidak cukup keuangannya atau tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hal ini karena adanya inflasi atau kenaikan dari harga berbagai kebutuhan hidup pokok seperti bahan pangan.

“Karena kalau hanya melihat dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi, kekhawatirannya dengan meningkatnya harga bahan pokok, sehingga dia (warga Jakarta) tidak bisa hidup (cukup memenuhi kebutuhan hidupnya dan baik),” akhirnya.

Reporter Nadya Donna Putri
Editor Aris Abdulsalam