AYOJAKARTA.COM - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tengah melakukan langkah diplomatik besar dengan mengunjungi empat negara di Asia pada April 2026.
Fokus utama dari perjalanan ini adalah kehadiran Pramono sebagai pembicara kunci di University of Kyoto, Jepang.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya strategis untuk menyusun blueprint baru Jakarta dalam transformasinya menuju Kota Global pasca-perpindahan ibu kota.
Belajar dari Shenzhen dan Kyoto
Perjalanan yang dimulai dari Taiwan, Shenzhen (China), Jeju (Korea Selatan), hingga berakhir di Kyoto ini menunjukkan ambisi Jakarta untuk "mencuri" ilmu dari kota-kota terbaik dunia.
Shenzhen, sebagai pusat teknologi global, menawarkan model Smart City yang bisa diadaptasi untuk efisiensi birokrasi dan layanan publik di Jakarta.
Sementara itu, Kyoto dipilih sebagai lokasi forum internasional karena keberhasilannya menyeimbangkan modernitas dengan pelestarian lingkungan.
Di University of Kyoto, Pramono diproyeksikan memaparkan rencana tata kota Jakarta yang lebih berkelanjutan, terutama dalam hal pengelolaan air dan infrastruktur ramah lingkungan, mengingat tantangan banjir yang masih menjadi prioritas utama.
Modal Kuat Jakarta
Upaya Pramono di kancah internasional didukung oleh fondasi ekonomi domestik yang solid.
Berdasarkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025 yang disampaikan Wakil Gubernur Rano Karno, Jakarta mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21%, melampaui angka nasional yang berada di level 5,11%.
Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta telah mencapai angka 85,05, yang merupakan tertinggi di Indonesia.
Dengan realisasi investasi yang menembus Rp270,9 triliun, Jakarta memiliki daya tawar yang kuat untuk menarik mitra global di forum-forum internasional seperti yang dihadiri Pramono di Jepang.
Transformasi menjadi kota global memerlukan infrastruktur yang andal. Saat ini, Jakarta terus memacu pembangunan strategis, termasuk MRT Jakarta Fase 2A yang telah mencapai progres 55,89%.
Keberhasilan dalam sektor transportasi ini menjadi poin penting yang dibawa Pramono ke forum Kyoto untuk menunjukkan bahwa Jakarta siap menjadi hub bisnis internasional yang terintegrasi.
Sinergi antara eksekutif dan legislatif, seperti yang ditekan oleh Rano Karno, menjadi kunci agar blueprint yang disusun di luar negeri dapat diimplementasikan secara nyata di tanah air.
Kunjungan kerja ini diharapkan membawa hasil konkret yang dapat dirasakan warga Jakarta saat Pramono kembali pada 29 April 2026 mendatang.
Dengan penguatan di sektor pendidikan melalui KJP Plus dan kesehatan melalui JKN yang mencapai 99,94%, Jakarta tidak hanya mengejar status "Kota Global" dari sisi fisik, tetapi juga dari kualitas hidup manusianya.
Langkah di Kyoto ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi wajah Jakarta di mata dunia.***