AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya mentransformasi sistem transportasi publik demi menghadirkan layanan yang aman, nyaman, dan efisien bagi warga.
Salah satu langkah strategis terbaru yang diambil adalah dengan memperkuat kerja sama internasional, menjadikan Shenzhen, Tiongkok, sebagai kota role model utama dalam pengembangan infrastruktur kota modern berbasis teknologi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan pentingnya Jakarta belajar dari kesuksesan pesat Shenzhen dalam membangun jaringan transportasi massal yang masif.
"Tentunya kita harus banyak belajar dari Shenzhen Metro. Maka MRT yang menjadi kata kunci untuk mengurangi kemacetan di Jakarta," ujar Pramono Anung dalam video yang diunggah ke media sosial Instagram pada Kamis, 23 April 2026.
"Kalau kerja sama ini bisa berjalan baik dan kami memberikan kewenangan kepada MRT untuk mengembangkan pasti akan menjanjikan, karena apa? Nanti TOD di Jakarta saya yakin gak kalah dengan Shenzhen," sambungnya lagi.
Shenzhen Metro telah berhasil membangun jalur MRT sepanjang 635 km hanya dalam kurun waktu 26 tahun.
Capaian ini sangat luar biasa jika dibandingkan dengan kondisi Jakarta saat ini yang baru mengangkut sekitar 128 ribu penumpang per hari dan diproyeksikan baru menyelesaikan total 22 km jalur pada tahun depan.
Belajar dari Blueprint Shenzhen
Kunci keberhasilan Shenzhen terletak pada penerapan konsep Transit-Oriented Development (TOD) yang memadai.
Saat ini, sistem transportasi di Shenzhen mampu mengangkut rata-rata 10 hingga 13 juta penumpang setiap harinya.
Dengan mempelajari blueprint tersebut, MRT Jakarta diharapkan dapat menjadi solusi kunci dalam mengurai kemacetan kronis di Jakarta, yang kini menghadapi tantangan urbanisasi kompleks dengan populasi aglomerasi Jabodetabek mencapai 42 juta jiwa.
Kerja sama ini juga mencakup transfer teknologi tingkat tinggi. Executive Vice Mayor Shenzhen, Tao Yongxin, menyatakan kesiapan Shenzhen untuk berbagi keahlian dalam elektrifikasi kendaraan, pengembangan infrastruktur pengisian daya (charging station), hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk layanan publik.
Hal ini sejalan dengan ambisi Jakarta untuk mengatasi permasalahan polusi dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Menuju Kesepakatan Sister City 2026
Proses kolaborasi ini diawali dengan pertemuan resmi di Shenzhen pada 22 April 2026, yang membahas penyusunan Letter of Intent (LoI) dan akan dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Pemerintah DKI Jakarta menargetkan status sister city dengan Shenzhen dapat diresmikan pada November 2026, menyusul kerja sama serupa yang telah dijalin dengan Beijing dan Shanghai.
Selain fokus pada infrastruktur, kemitraan ini akan memperkuat konektivitas antarwarga melalui pertukaran budaya, pelajar, serta inovasi di sektor maritim.
Sebagai pionir smart city global yang menjadi basis perusahaan raksasa seperti Huawei dan BYD, Shenzhen menawarkan pengalaman berharga bagi Jakarta dalam bertransformasi menjadi kota global yang modern.
Melalui integrasi teknologi dan pengembangan kawasan TOD yang mumpuni, Jakarta optimis dapat mewujudkan sistem transportasi yang tidak hanya canggih, tetapi juga menjamin kenyamanan seluruh warganya.***