Metropolitan

Mengapa Shenzhen China Dipilih Sebagai Model Pengembangan MRT Jakarta?

Oleh: Katarina Erlita
MRT Shenzhen. (Sumber: youtube.com/@central-city)

AYOJAKARTA.COM - Jakarta terus berbenah menuju kota global yang bebas macet.

Salah satu langkah besarnya adalah memilih Shenzhen, Tiongkok, sebagai model pengembangan MRT Jakarta. Mengapa kota ini yang dipilih? Mari kita bedah alasannya.

Skala Jaringan yang Masif

Shenzhen adalah keajaiban dunia transportasi. Dalam 26 tahun, mereka membangun jalur metro sepanjang 635 kilometer.

Jarak ini setara dengan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Sebagai perbandingan, jalur MRT Jakarta saat ini baru mencapai 16 kilometer.

Perbedaan skala yang besar ini membuat Jakarta perlu belajar dari "sang guru" yang sudah mapan.

Shenzhen terbukti mampu mengangkut hingga 13 juta penumpang setiap harinya dengan sangat efisien.

Fokus pada Integrasi dan TOD

Kerja sama antara PT MRT Jakarta dan Shenzhen Metro Group berfokus pada konsep Transit Oriented Development (TOD).

Ini bukan hanya soal membangun rel dan gerbong kereta. Konsep TOD bertujuan mengubah kawasan di sekitar stasiun menjadi pusat hunian, bisnis, dan hiburan.

Jika berhasil diadopsi, lahan yang tidak produktif di Jakarta bisa berubah menjadi blok kota modern yang "ramah kaki".

Warga tidak perlu lagi bergantung pada kendaraan pribadi karena semua kebutuhan ada dalam jangkauan jalan kaki dari stasiun.

Mengadopsi "Otak Digital" dan AI

Sebagai markas raksasa teknologi seperti Huawei, Shenzhen memiliki sistem transportasi yang cerdas.

Jakarta akan mengadopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mengoptimalkan layanan publik.

Dengan AI, sistem dapat mendeteksi lonjakan penumpang dan mengatur interval kereta secara otomatis.

Teknologi ini juga membantu mengelola infrastruktur pengisian daya listrik untuk mendukung kendaraan massal ramah lingkungan. Ini adalah langkah nyata Jakarta untuk bebas polusi.

Percepatan Menuju Kota Global

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan pentingnya efisiensi operasional.

Kerja sama strategis yang diteken pada April 2026 ini diharapkan berlanjut pada kolaborasi teknis jangka panjang.

Targetnya, Jakarta dan Shenzhen akan resmi menjadi Sister City pada November 2026.

Kolaborasi ini adalah "jalan pintas" bagi Jakarta untuk melakukan lompatan teknologi.

Transformasi ini sangat mendesak. Saat ini, MRT Jakarta baru melayani sekitar 128 ribu penumpang per hari.

Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan capaian Shenzhen.

Dengan transfer teknologi dan pola pikir baru, Jakarta optimis bisa menciptakan ekosistem transportasi yang aman dan nyaman.

Jika rencana ini berjalan lancar, kemacetan kronis di Jakarta segera menjadi sejarah, digantikan oleh mobilitas cerdas berbasis rel.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita