AYOJAKARTA.COM - Proyek pembangunan MRT Jakarta Lin Utara-Selatan Fase 2A terus menunjukkan kemajuan siginifikan.
Hingga Mei 2026, pembangunan proyek yang akan menghubungkan kawasan Bundaran HI hingga Kota ini telah mencapai 60,80 persen.
PT MRT Jakarta (Perseroda) telah menargetkan penyelesaian segmen satu Bundaran HI—Monas pada akhir 2027 dan segmen dua hingga Kota pada akhir 2029.
Kemajuan signifikan pun terlihat pada setiap paket kontrak konstruksi.

Saat ini, untuk CP 201 yakni Stasiun Thamrin dan Monas hampir rampung yakni mencapai 92,99 persen.
Kemudian CP 202 yakni Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar telah mencapai 65,61 persen.
CP 203 Stasiun Glodok dan Kota sudah mencapai 85,04 persen dan CP 205 Railway Systems and Track Work telah mencapai 47,80 persen.
Sedangkan CP 206 Rolling Stock mencapai 0,28 persen dan proyek CP207 yang meliputi perancangan, pabrikasi, pengiriman, dan pemasangan sistem pengumpulan tarif otomatis atau Automatic Fare Collection (AFC) sudah memasuki tahap penandatanganan kontrak kerja sama dengan Hitachi Rail dan Sumitomo Corporation pada 4 Juni 2026.

Fase 2A lin utara- selatan ini akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
Fase 2A dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.
Fase ini dibangun dengan anggaran sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Sedangkan untuk Fase 2B yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Berbeda dengan fase 1, fase 2A ini dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development).
Pembangunan dengan konsep ini tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun MRT Jakarta saja.
Tapi juga kawasan sebagai paduan antara fungsi transit dan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang akan mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.***