AYOJAKARTA.COM — Berdasarkan Profil Pengangguran Provinsi DKI Jakarta 2023 yang dirilis pada 30 September 2024 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta mengungkap jenjang pendidikan dengan jumlah pengangguran paling tinggi di Jakarta.
Bukan Sarjana, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) rupanya mendominasi angka pengangguran dengan persentase sebesar 34,24 persen atau sekitar 121 ribu orang. Ini menjadikannya kelompok terbesar di antara pengangguran di Jakarta.
Di posisi berikutnya, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang 25,25 persen atau 89 ribu orang dari total pengangguran.
Sementara itu, lulusan perguruan tinggi berkontribusi sebesar 17,45 persen atau 62 ribu orang.
Sisa pengangguran berasal dari lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 16,20 persen atau sebanyak 57 ribu orang dan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 6,86 persen sebanyak 24 ribu orang.
Baca Juga: Prospek Jurusan Kuliah Pendidikan Agama, Bisa Menjadi Profesi Ini
Fakta ini menunjukkan bahwa persentase pengangguran dengan pendidikan rendah, seperti SMP ke bawah relatif kecil.
Hal ini bisa terjadi karena mereka cenderung bersedia bekerja di sektor informal atau pekerjaan kasar, meskipun dengan risiko upah yang lebih rendah.
Sementara itu, Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2023 juga mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi terjadi pada lulusan SMA dengan angka 8,35 persen, diikuti oleh lulusan SMP 7,93 persen dan SMK 7,39 persen.
Hal itu menunjukkan adanya masalah penyerapan tenaga kerja bagi lulusan pendidikan menengah.
Meskipun lulusan SMA dan SMK dianggap telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar, golongan ini nampaknya masih sulit mendapatkan pekerjaan.
Pada lulusan SMK, ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja menjadi salah satu faktor penyebab.
Baca Juga: Rayakan Kehangatan HUT ke-26, Bank Mandiri Bagikan Santunan Pendidikan ke 2.600 Anak Yatim Piatu
Lulusan SMK seharusnya siap memasuki dunia kerja dengan keterampilan khusus, tetapi kenyataannya masih banyak yang tidak sesuai dengan permintaan industri.***