Metropolitan

Punya Dua Kutub Ideologis Berseberangan, Mampukan Hubungan PDIP dan Anies Baswedan Berbuah Pencalonan di Pilkada Jakarta?

Oleh: Karseno AJ Senin 26 Agu 2024, 12:52 WIB
Anies Baswedan dan Megawati

AYOJAKARTA.COM - Untuk mendapat dukungan ekstra dari pemilih di Pilkada Jakarta, PDIP membutuhkan figur seperti Anies Baswedan.

Selain elektabilitasnya tertinggi, dukungan PDIP terhadap Anies Baswedan merupakan cara paling efektif melawan pasangan Rawon yang didukung KIM Plus di Pilkada Jakarta.

Sehingga dalam menghadapi kontestasi Pilkada Jakarta, PDIP dan Anies Baswedan perlu melakukan berbagai macam harmonisasi atau penyesuaian.

Di samping menyangkut pentingnya aspek elektoral dan aspek ideologis, penyesuaian dan harmonisasi juga perlu mencakup aspek politis.

Baca Juga: Cuitan Lama Ridwan Kamil soal Karakter Orang Jakarta Kembali Dibahas, Blunder Jelang Pilgub?

Pandangan tersebut merupakan substansi pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia.

Lebih lanjut, Djayadi Hanan juga melihat adanya faktor kebutuhan serupa yang saat ini dihadapi oleh Anies Baswedan.

“Mas Anies kalau mau nyalon untuk Pilkada DKI tidak ada pilihan lain bagi dia harus ke PDIP, jadi itu kepentingannya,” ungkap Djayadi terkait aspek elektoral dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Senin (26/8/2024). 

Fakta bahwa PDIP juga memiliki calon kuat seperti Ahok untuk bisa disodorkan di Pilkada Jakarta, menurut Djayadi menjadi persoalan tersendiri.

Baca Juga: Singgung Soal Hukum Tabur Tuai, Rizky Billar Sindir Kaesang Pangarep: Sekarang 1 Indonesia Ngolok-ngolok Istrinya

Figur publik yang dikenal luas masyarakat Jakarta seperti Ahok atau Anies, menurut Djayadi merupakan lawan tanding paling relevan menghadapi pasangan Ridwan-Suswono.

Menyangkut adanya perbedaan aspek ideologis antara PDIP dengan sosok Anies, Djayadi menilai bukan merupakan hal mudah untuk langsung diputuskan.

“Dalam perpolitikan Indonesia dan khususnya Jakarta, ada jarak yang jauh antara Anies dan PDIP, Anies di kanan sementara PDIP di kiri,” jelas Djayadi.

Adanya disparitas secara ideologis antara Anies dengan PDIP, membuat proses penyesuaian menjadi lebih membutuhkan banyak pertimbangan.

Terkait pentingnya aspek politis dan dukungan dari warga Jakarta, Djayadi melihat adanya dua dampak potensial dari penyatuan PDIP dengan Anies Baswedan.

Karena itu, Djayadi mengingatkan perlunya kecermatan dari PDIP dan Anies untuk bisa sama-sama melihat kemungkinan-kemungkinan yang muncul.

“Kalau berdasarkan data, Anies itu kalau di kalangan PDIP itu resistensinya cukup kuat, kalau Ahok dimajukan resistensi di pendukung Anies juga kuat,” jelas Djayadi.

Menyadari berbagai potensi serta dampak elektoral dari bersatunya Anies dan PDIP, menurut Djayadi membutuhkan pertimbangan sangat terperinci dan cermat.

Baca Juga: KPM PKH, BPNT, Non DTKS Full Senyum! 2 Bansos Non Tunai Cair Pagi Ini, Siap-siap Saldo Masuk Rekening Mulai Rp450 Ribu

PDIP, menurut Djayadi perlu sangat mendalami situasi dan mematangkan kalkulasi politis sehingga harmonisasi dengan Anies benar-benar membuahkan kemenangan.

Sebab kesalahan membuat perhitungan, bukan saja bisa berdampak buruk bagi PDIP tetapi juga kekalahan dan perseteruan.

“PDIP saat ini sedang mencari kutub positif dan negatif, sehingga bisa saling melengkapi,” pungkas Djayadi.***

Reporter Karseno AJ
Editor Desi Kris