Metropolitan

PKS Akan Tinggalkan Anies Baswedan dan Berpaling ke Cagub Lain, Ini Penyebabnya

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Jumat 09 Agu 2024, 11:12 WIB
Anies Baswedan, yang sejak awal diusung oleh PKS sebagai salah satu kandidat kuat dalam Pilgub Jakarta, merespons tenang isu saat ini.

AYOJAKARTA.COM - Situasi politik di Jakarta semakin memanas menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024.

Salah satu isu yang menarik perhatian adalah sinyal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang akan menarik dukungannya terhadap bakal calon gubernur (Cagub) Jakarta, Anies Baswedan.

Isu ini tentu menimbulkan spekulasi di kalangan publik dan pengamat politik mengenai masa depan koalisi yang saat ini mendukung Anies.

Anies Baswedan, yang sejak awal diusung oleh PKS sebagai salah satu kandidat kuat dalam Pilgub Jakarta, merespons dengan tenang.

Menurutnya, semua partai politik yang terlibat dalam Pilgub Jakarta sedang mencari solusi terbaik untuk memastikan kemenangan di ajang tersebut.

Anies juga menegaskan keyakinannya bahwa PKS dan partai-partai lainnya akan tetap bekerja sama untuk mengamankan posisi Jakarta bagi calon yang mereka dukung.

Baca Juga: 5 Ide Lomba 17 Agustus untuk Bapak-Bapak yang Seru dan Meriah, Merias Istri Hingga Tebak Harga

Dalam sebuah pernyataan, Anies menyampaikan bahwa partai-partai politik akan mendengarkan aspirasi yang disampaikan oleh pengurus tingkat daerah.

"Saya percaya bahwa aspirasi rakyat Jakarta akan terus dijaga karena semua partai mendapatkan kursi itu berdasarkan aspirasi dari rakyat. Sejauh ini, kalau kita perhatikan DPW-DPW partai di Jakarta sudah mengusulkan nama. Nama-nama itu adalah cerminan aspirasi warga," ujar Anies.

Meskipun PKS telah mengusung Anies Baswedan sebagai calon gubernur, ini tidak berarti bahwa Anies otomatis mendapatkan "golden ticket" untuk maju di Pilkada Jakarta.

Sebagai bagian dari strategi politik, PKS memberikan tugas kepada Anies untuk mencari tambahan empat kursi agar bisa memenuhi syarat maju di Pilkada Jakarta.

Tugas ini menjadi ujian tersendiri bagi Anies dalam menggalang dukungan dari partai-partai lain.

PKS memberikan Anies waktu 40 hari sejak deklarasi pada 25 Juni lalu untuk menuntaskan tugas tersebut.

Namun, dengan semakin kuatnya dukungan Koalisi Indonesia Maju, PKS kembali mengingatkan Anies mengenai tenggat waktu yang diberikan.

Juru bicara PKS, Mohammad Kholid, menegaskan bahwa meskipun PKS adalah partai pemenang, mereka tetap membutuhkan tambahan kursi untuk bisa menggenapi persyaratan maju di Pilkada Jakarta.

“Jadi, PKS pun walaupun partai pemenang, kita belum bisa menggenapi persyaratan untuk maju sendiri. Kita masih membutuhkan tambahan kursi dan kami juga sudah sampaikan kepada Mas Anies sebagai kandidat yang kita usung. Kita memiliki wakil yang kita ajukan, Bapak Sohibul Iman, sebagai pasangan untuk menggenapi empat kursi ini sampai pada tanggal 4 Agustus kemarin," ujar Kholid.

Ia juga menekankan bahwa setelah deadline 4 Agustus terlewati, PKS mulai membuka pertimbangan baru mengenai langkah yang akan diambil selanjutnya.

Kandidat paket Anies Baswedan dan Sohibul Iman yang diusulkan oleh PKS ternyata tidak serta-merta mendapatkan dukungan dari partai calon koalisi lainnya.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya, menyatakan keberatannya terhadap pencalonan Sohibul Iman sebagai bakal calon wakil gubernur (Cawagub) yang mendampingi Anies. Hal serupa juga disampaikan oleh PDI Perjuangan yang mengaku masih mencari jalan keluar bersama PKS untuk mengatasi kebuntuan yang ada.

Situasi semakin rumit ketika Wakil Ketua Umum PKS, Jazilul Fawaid, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada pertemuan formal antara partai-partai koalisi untuk membahas masalah ini secara mendalam.

"Ketika PKS, misalnya, mengusulkan Sohibul Iman, beberapa teman di PKB juga keberatan. Nah, yang ini belum ada jalan keluarnya. Sampai saat ini, belum ada pertemuan partai-partai untuk membahas masalah ini," ungkap Jazilul.

Kondisi ini membuat posisi Anies Baswedan semakin terjepit, di mana ia harus segera mencari solusi untuk mendapatkan dukungan penuh dari partai-partai koalisi, termasuk PKS.
Kegagalan untuk memenuhi persyaratan kursi yang dibutuhkan bisa menjadi pukulan berat bagi Anies dan timnya dalam upaya memenangkan Pilgub Jakarta.

Baca Juga: Bareskrim Polri Periksa Enam Terpidana Kasus Vina Cirebon Soal Kesaksian Palsu, Kuasa Hukum Sebut Terpidana Merasa Lega

Namun, Anies tetap optimis bahwa semua partai yang terlibat akan menemukan kesepakatan yang terbaik. Baginya, yang paling penting adalah menjaga aspirasi rakyat Jakarta tetap diutamakan dalam setiap keputusan yang diambil oleh partai-partai politik.

Apakah PKS benar-benar akan meninggalkan Anies dan mencari calon lain, ataukah akan ada kesepakatan baru yang tercapai di menit-menit akhir, masih menjadi teka-teki besar dalam panggung politik Jakarta.

Satu hal yang pasti, dinamika politik di Jakarta semakin seru dan penuh dengan intrik. Semua mata kini tertuju pada langkah berikutnya dari PKS dan Anies Baswedan dalam upaya meraih kemenangan di Pilgub Jakarta 2024.

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Aris Abdulsalam