AYOJAKARTA.COM – Perhelatan Pilkada Jakarta yang akan digelar pada November 2024 mendatang, menjadi ujian bagi elit partai politik.
Adanya upaya untuk membentuk keseragaman pola bukan sekedar terjadi dalam Pilkada Jakarta, namun juga terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Karena itu, wacana adanya kemungkinan calon tunggal atau kotak kosong menjadi salah satu ujian bagi para elit parpol untuk menyelaraskan keseimbangan demokrasi.
Pandangan tersebut sempat disampaikan oleh Pengamat Politik Adi Prayitno saat menjadi salah satu narasumber diskusi terkait Pilkada Jakarta.
Terkait dengan adanya upaya dominasi, Adi melihat kandidat cagub semisal Anies Baswedan maupun Ahok mengalami tekanan yang serupa.
Baca Juga: Tidak Takut Lawan Anies Baswedan, Benarkah Kaesang Akan Maju di Pilgub Jakarta 2024?
“Per hari ini Anies Baswedan ataupun Ahok sedang melawan bagaimana oligarki partai politik itu sedang menentukan nasib tentang pencalonan,” ungkap Adi, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Rabu, 7 Agustus 2024.
Seyogyanya, kata dia, setiap partai politik merupakan sebuah mesin politik yang menghasilkan kader pemimpin, sehingga masing-masing memiliki peran dalam kontestasi.
Karena itu, Adi menilai perkataan para elit partai politik yang acap kali menyatakan tentang pentingnya proses kaderisasi, sedang mengalami ujian dalam menghadapi Pilkada Jakarta.
PDIP dan sejumlah partai politik yang sempat tergabung dalam Koalisi Perubahan saat Pilpres perlu menegaskan sikap politik.
“Supaya demokrasi kita itu bukan demokrasi yang asal-asalan, bukan hanya sebatas demokrasi tetapi yang dilawan adalah kotak kosong,” tegasnya.
Membiarkan sebuah kontestasi seperti Pilkada Jakarta berjalan tanpa adanya proses seleksi yang bersumber dari kaderisasi, menurut Adi merupakan hal yang naif sekaligus ironi.
Baca Juga: Muncul Sinyal Anies Baswedan Batal Diusung di Pilgub Jakarta, PKS: Ikhtiar Akan Terus Dilakukan
Dengan keseragaman, parpol yang sejatinya merupakan ladang subur bagi tumbuhnya bibit pemimpin, justru akan mengalami sumbatan regenerasi kepemimpinan.
Tanpa adanya upaya untuk memberikan warna berbeda dalam ajang kontestasi dan kecenderungan berkompromi, Adi melihatnya sebagai sebuah kegagalan partai politik.
“Kalau begini ceritanya, partai bubarkan sajalah, karena selama ini katup untuk menjadi pemimpin harus lewat partai,” tegas Adi.
Sehubungan dengan perhelatan demokrasi yang menjadi agenda politik di Indonesia, parpol menurut Adi memiliki kewajiban untuk menawarkan Menu.
Adanya wacana mencalonkan RK untuk berlaga di Pilkada Jakarta dengan dukungan dari KIM Plus, merupakan ujian integritas bagi sejumlah parpol.
Oleh karena itu wacana adanya calon tunggal atau kotak kosong di Pilkada Jakarta, hal tersebut sangat ditentukan oleh partai politik yang tidak tergabung dalam KIM.
Baca Juga: KIM Plus Sepakat Usung Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta, Siapa Wakilnya? Begini Kata Gerindra
“PKS, Nasdem, PKB, PDIP sedang diuji, apakah iman politik mereka berubah,” pungkas Adi terkait calon tunggal di Pilkada Jakarta.***