AYOJAKARTA.COM - Digadang-gadang sebagai wilayah paling strategis bagi seluruh partai politik, dinamika Pilkada Jakarta diwarnai aksi saling tunggu.
Munculnya nama Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat terkuat calon gubernur di ajang Pilkada Jakarta, membuat sejumlah parpol lebih berhati-hati untuk memutuskan.
Adanya kekhawatiran menghadapi kekalahan di Pilkada Jakarta, menjadi salah satu alasan bagi elit parpol lebih menempatkan kader terbaiknya di wilayah lain.
Pernyataan terkait psikologi para elit partai politik tersebut, merupakan pandangan dari Ujang Komarudin yang merupakan Analis Politik Universitas Al Azhar.
Ujang menilai, fenomena tarik-ulur dan saling tunggu yang terjadi di kalangan Koalisi Indonesia Maju menjadikannya belum bersedia memunculkan pasangan cagub-cawagub.
“Reza Patria punya potensi di Jakarta, tetapi di geser ke Tangsel, jadi saya melihat hari ini belum ada nama yang pasti akan diusulkan oleh KIM,” ungkap Ujang.
Selain terjadi di dalam Koalisi Indonesia Maju, kebimbangan serupa juga dialami oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Meski sederet nama kader terbaiknya sempat dinobatkan sebagai figur paling sesuai untuk bertanding di Jakarta, hingga hari ini baru Partai Nasdem dan PKS yang membuka kartu.
Bukan saja terjadi di Jakarta, kondisi tarik ulur dan saling tunggu juga berimbas di daerah lain di Pulau Jawa dari bagian Barat, Tengah hingga Timur.
Sehubungan dengan adanya anggapan yang menyebut bahwa Pilkada Jakarta merupakan Episentrum pemilihan kepala daerah di wilayah lain, Peneliti Litbang Kompas menanggapi.
Menurut Rangga Eka Sakti, pintu terbentuknya koalisi untuk menghadapi ajang Pilkada serentak di sejumlah daerah masih terbentang dengan lebar.
Lebih lanjut Rangga menilai, di kalangan elit parpol hingga saat ini masih terus berlangsung proses menentukan formasi yang dianggap paling ideal.
Jeda waktu beberapa bulan yang tersedia menuju Pilkada serentak, menurut Rangga membuat para elit perlu ekstra pertimbangan untuk bertanding di Jakarta.
Sehubungan dengan hasil survei elektabilitas sejumlah tokoh yang mendominasi di Pilkada Jakarta, Rangga memberi tanggapan.
Rangga menyebut, meski sejumlah tokoh kenamaan seperti Anies, Ahok serta RK cukup mendominasi, namun potensi adanya resistensi masih tetap terjadi.
Menempati urutan tertinggi dengan hampir 30 persen, Anies memiliki tingkat resistensi yang jumlahnya mencapai 17 persen serta 18 persen bagi Ahok .
Baca Juga: 8 Universitas Swasta Terbaik di Bandung versi PDDikti, Sudah Mendapatkan Akreditasi Unggul Lho
Namun demikian, Rangga mencermati adanya fakta menarik terkait dengan elektabilitas RK yang berada di bawah Anies maupun Ahok.
“Justru RK itulah yang resistansinya paling kecil dibandingkan Anies dan Ahok, sehingga potensi deadlock perlu dipertimbangkan,” jelas Rangga. ***