AYOJAKARTA.COM - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengumumkan dukungan terhadap Anies Baswedan sebagai calon Gubernur Jakarta dalam Pilkada mendatang.
Anies yang akan berpasangan dengan kader PKS Sohibul Iman diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi Jakarta.
Lalu bagaimana peluang Anies memenangkan Pilgub Jakarta, apakah Jokowi efek masih berpengaruh?
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno mengungkapkan pendapatnya.
Baca Juga: PKS Ungkap Alasan Usung Anies Baswedan-Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 2024
Bagi Adi, Jokowi efek tak akan terlalu berpengaruh di Pilgub Jakarta.
Menurutnya, resistensi pemilih Jakarta terhadap Jokowi cukup tinggi sehingga calon yang dikaitkan dengan Jokowi seringkali kesulitan mendapatkan dukungan signifikan.
"Saya kira Jokowi efek itu tidak terlampau dominan dan tidak terlampau signifikan argumennya dua hal pertama memang sejak lama pemilih di Jakarta itu resistensinya terhadap Jokowi cukup tinggi," jelas Adi Prayitno dikutip ayojakarta.com dari YouTube KOMPASTV, Rabu (26/6/2024).
Selain itu, saat Pilgub Jakarta digelar pada 27 November 2024 mendatang, Jokowi tak lagi menjabat sebagai presiden, yang berarti efek politiknya tak akan terlalu dominan.
Baca Juga: PKS Resmi Usung Anies-Sohibul untuk Pilgub Jakarta, PDIP Setuju?
Adi menambahkan bahwa efek presiden yang lebih mungkin muncul adalah dari Prabowo Subianto yang akan mulai menjabat sebagai presiden pada 20 Oktober 2024, sebulan sebelum Pilgub Jakarta berlangsung.
Namun, efek ini juga dinilai tak akan terlalu signifikan dalam menentukan hasil Pilgub Jakarta.
Menurut Adi, pemilih Jakarta lebih mempertimbangkan figur calon daripada efek dari presiden yang mendukung.
Anies Baswedan dinilai kuat karena memiliki penetrasi dan basis dukungan yang solid.
Ridwan Kamil dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga disebut sebagai calon kuat karena figur mereka sendiri bukan karena dukungan presiden tertentu.
Prayitno menyebutkan bahwa jika Jokowi efek benar-benar dominan, maka yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) seharusnya adalah Kaesang Pangarep, putra Jokowi.
Namun, Kaesang tak muncul secara signifikan dalam survei menunjukkan bahwa dukungan presiden saja tak cukup untuk memenangkan Pilgub Jakarta.
Siapapun yang menantang Anies Baswedan di Pilgub Jakarta harus bekerja keras dan memiliki elektabilitas tinggi.
Baca Juga: PKS Usung Anies dan Sohibul Iman Jadi Pasangan Bakal Cagub dan Cawagub Pilkada Jakarta 2024
Figur calon menjadi kunci utama dalam memenangkan hati pemilih Jakarta.
Jokowi atau Prabowo efek hanyalah faktor pendukung yang tak terlalu menentukan.
"Siapapun nantinya yang bertanding melawan Anies harus bisa dipastikan dia mampu merebut basis-basis konstituen yang selama ini memang dalam banyak hal masih bisa digoyang," tanda Adi.
Pemilih Jakarta dikenal sebagai pemilih yang rasional dan independen sehingga figur calon yang kuat dengan dukungan sistem dan tim pemenangan yang solid akan lebih berpeluang memenangkan Pilgub.
Baca Juga: Mengejutkan! Ini Alasan PKS Usung Sohibul Iman Jadi Pendamping Anies Baswedan di Pilgub DKI 2024
Anies memiliki catatan kemenangan di Pilgub Jakarta sebelumnya, namun tak menutup kemungkinan ia bisa dikalahkan oleh calon lain yang kuat dan bekerja keras.
Pilgub Jakarta akan menjadi pertarungan figur, bukan sekadar efek dukungan dari presiden yang sedang menjabat.
Dukungan PKS terhadap Anies Baswedan menunjukkan kepercayaan bahwa Anies memiliki kapasitas untuk memenangkan hati pemilih Jakarta.
Namun, tantangan dari calon lain yang kuat seperti Ridwan Kamil dan Ahok tetap ada.
Kerja keras serta elektabilitas menjadi kunci utama dalam pertarungan ini.***