AYOJAKARTA.COM – Mendekati hari jadi ke-497, Pengusaha kenamaan Jusuf Hamka menyinggung perihal gelar Ibukota yang selama ini disandang Jakarta.
Melepas atribut gelar sebagai Ibukota, Jusuf Hamka yang sering disebut-sebut sebagai Raja Jalan Tol berharap kota Jakarta akan belajar dari pengalaman.
Deretan gedung yang menjadi pusat perekonomian serta jalan-jalan yang identik dengan kemacetan, menurut Jusuf Hamka memerlukan keseriusan dalam pengelolaan.
Sehingga dampak perluasan Daerah Khusus Jakarta yang sedang direncanakan Pemerintah tidak melahirkan persoalan baru sebagaimana hari ini.
“Siapapun yang akan menjadi Pemimpin di Jakarta nanti, jangan hanya membangun untuk keindahan,” ungkap Hamka.
Baca Juga: Terungkap! Penyebab Kucing Liar Selalu Hilang dari Peredaran Setiap Hari Raya Idul Adha
Problematika seperti banjir, kemacetan jalan, serta kesemrawutan merupakan persoalan klasik yang seharusnya lebih menjadi prioritas penanganan.
Dikenal sebagai Raja Jalan Tol, Hamka memandang sejumlah hal yang perlu mendapat penanganan secara lebih serius untuk kemajuan Jakarta.
Masalah banjir, menurut Hamka dapat disiasati dengan memperbanyak resapan air di titik rawan banjir serta memastikan jalur lintasan air.
Sedangkan ketersediaan angkutan umum yang nyaman dan mampu mencakup secara luas, merupakan jawaban atas persoalan kemacetan jalan.
Selain itu, untuk menyiasati tingginya angka kemacetan jalan di Jakarta dapat dilakukan dengan menambah jalan bagi kendaraan.
Baca Juga: ICA Kerja Sama dengan Fikom UNPAD Selenggarakan 74th ICA Annual Conference Jakarta- Bandung Hub
Dampak kemacetan jalan dan banjir, menurut Hamka merupakan dua permasalahan yang selalu membawa dampak besar pada sektor perekonomian.
“Kalau kita kasih transportasi yang baik, jalan yang bagus dan lebih banyak, dan kalau tidak mampu bisa menikmati transportasi publik,” jelas Hamka.
Sehubungan dengan adanya Pilkada Jakarta pada November 2024 mendatang, Hamka menyinggung sejumlah kriteria yang harus dimiliki.
Selain berani menyediakan transportasi gratis, calon Gubernur yang akan ikut pada Pilkada mendatang menurut Hamka juga harus bernyali memberi manfaat bagi rakyat Jakarta.
Terlepas dari latar belakang pendidikan dan partai politik, Hamka berpendapat kriteria umum bagi cagub peserta Pilkada Jakarta adalah keberhasilan membangun SDM.
“Pemimpin harus bisa mensejahterakan rakyat banyak, bukan memperkaya sekelompok orang yang uangnya sudah banyak,” tegas Hamka.
Terkait dengan kriteria terpenting untuk menjadi Gubernur Jakarta, Hamka menilai pemimpin Jakarta bukanlah figur yang lebih mencintai dunia.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang benar-benar bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat, Hamka menganggap hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang.
“Makanya kalo mau jadi Pejabat, tolong kehidupan dunianya sudah selesai dulu deh,” tegas Hamka saat menjadi narasumber di sebuah siniar.