AYOJAKARTA.COM -- Pilkada Jakarta semakin memanas dengan munculnya berita putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, ingin berduet dengan Anies Baswedan di ajang pilgub nanti.
Kaesang secara blak-blakan mengungkapkan niatnya ini, menyusul putusan Mahkamah Agung terkait gugatan batas usia calon kepala daerah yang membuka peluang baru bagi kandidat muda.
Pilkada Jakarta kini menjadi sorotan dan Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, memberikan pandangannya.
Baca Juga: Pilih Jakarta Ketimbang Solo, Kaesang Pangarep Ingin Duet dengan Anies Baswedan di Pilgub DKI
Burhanuddin membaca adanya potensi besar poros koalisi dari Pilpres yang akan berlanjut ke Pilkada Jakarta.
"Potensi itu sangat besar, jadi semacam replikasi dari Pilpres terjadi di konteks Pilkada tetapi tentu ada modifikasi," ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa terlalu gegabah jika menyimpulkan akan terjadi "Pilpres Jilid Kedua" di Jakarta.
Pilkada Jakarta kemungkinan besar akan menampilkan dua poros utama. Pertama, poros pemerintah yang mendukung Prabowo-Gibran dan kedua poros nonpemerintah.
Baca Juga: Soal Kabar Kaesang Pangarep Maju ke Pilgub DKI, Ridwan Kamil: Selalu Ada Plotwist
Burhanuddin juga mengutip pernyataan dari Hasto Kristiyanto yang menyebut PDIP sangat terbuka untuk mengusung Anies Baswedan dan berkoalisi dengan PKS.
Kombinasi PDIP dan PKS ini, meskipun secara ideologis bertolak belakang, menunjukkan dinamika politik yang menarik menjelang Pilkada Jakarta.
Pilkada Jakarta bukan hanya penting secara simbolis tetapi juga strategis untuk peta politik 2029.
Burhanuddin mengingatkan bahwa Jakarta akan ditentukan oleh elite nasional, bukan hanya pengurus lokal.
"Top elite nasional akan turun tangan untuk menentukan siapa calon yang akan dimajukan," jelasnya. Ini menunjukkan betapa signifikan posisi Jakarta dalam kancah politik nasional.
Namun, keinginan Kaesang untuk maju di Pilkada Jakarta mendapat tentangan keras dari ayahnya, Presiden Jokowi.
Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa Jokowi tidak setuju anak bungsunya bertarung di Pilkada Jakarta.
"Pak gimana kalau Kaesang maju Pilkada Jakarta? Waduh, jangan," kata Zulhas menirukan respons Jokowi usai rapat kabinet.
Baca Juga: Soal Maju Pilgub DKI atau Jabar, Ridwan Kamil Masih Pertimbangkan: Tunggu Juli
Pilkada Jakarta dengan segala dinamika dan intriknya jelas akan menjadi sorotan utama dalam peta politik Indonesia.
Keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah dan komposisi koalisi yang akan bertarung untuk merebut kursi gubernur Jakarta.
Apakah Kaesang akan tetap maju atau mundur mengikuti larangan ayahnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.