Metropolitan

Ternyata Lulusan Ini Paling Sedikit Menganggur di Jakarta

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Sabtu 04 Mei 2024, 06:51 WIB
Ilustrasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta merilis data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayahnya pada tahun 2023.

AYOJAKARTA.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta merilis data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayahnya pada tahun 2023.

Data menunjukkan bahwa lulusan SMA Umum memiliki tingkat pengangguran tertinggi, yaitu sebesar 8,35 persen.

Dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya, angka tersebut jauh lebih tinggi.

Sedangkan, penduduk Jakarta yang tingkat Pendidikan terakhirnya Diploma I/II/III, adalah golongan yang paling mudah bekerja dengan tingkat pengangguran paling kecil yaitu 2,77 persen.

Baca Juga: 11.303 Formasi CPNS Kejaksaan RI 2024, Cek Kualifikasi Pendidikan Lulusan SMA hingga Sarjana

Berikut rincian TPT di DKI Jakarta berdasarkan tingkat pendidikan terakhir:

≤ SD: 3,81%
SMP: 7,93%
SMA Umum : 8,35%
SMA Kejuruan: 7,39%
Diploma I/II/III: 2,77%
Universitas: 4,80%

Secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jakarta dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan.

Dari sumber yang sama disebutkan TPT pada tahun 2021 sebesar 8,50 persen.

Jumlah tersebut menyusut di tahun berikutnya atau 2022 menjadi 7,18 persen.

Kemudian di tahun 2023, jumlahnya semakin berkurang menjadi 6,53 persen.

Sementara berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak jumlahnya dari perempuan dalam Tingkat Pengangguran Terbuka.

Baca Juga: 7 Peluang Kerja Lulusan Psikologi, Tidak Harus Jadi Psikolog, Peluang Besar di Banyak Bidang Dengan Gaji Fantastis

Laki-laki berjumlah 7,76 persen, sedangkan perempuan cuma 4,55 persen.

Tingkat Pengangguran Terbuka adalah persentase dari jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.

Angkatan kerja sendiri didefinisikan sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau memiliki pekerjaan namun sementara tidak bekerja.

Dengan  kata lain, TPT menunjukkan proporsi angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.

Semakin tinggi TPT, maka semakin banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan dan mencari penghasilan.***

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Tedi Rukmana