Metropolitan

Sejarah Pasar Tanah Abang: Sempat Jadi Primadona Kini Garing karena Platform Belanja Online

Oleh: Karseno AJ Jumat 13 Okt 2023, 14:58 WIB
Sejarah Pasar Tanah Abang: Sempat Jadi Primadona Kini Garing karena Platform Belanja Online

AYOJAKARTA.COM -- Nama Pasar Tanah Abang masih menjadi perbincangan lantaran ribuan pedagang yang mengalami kerugian.

Selain karena dampak pandemi Covid-19, berkurangnya jumlah pembeli di Pasar Tanah Abang juga karena bertumbuhnya sejumlah platform belanja online.

Besarnya potongan harga serta ongkos kirim gratis yang ditawarkan platform belanja online, membuat omset pedagang di Pasar Tanah Abang mengalami penurunan.

Baca Juga: Permohonan Pedagang Tanah Abang Agar Shopee dan Lazada Dihapus, Netizen: Makanya Kalo Jualan Jangan Nyekek

Berkurangnya pendapatan kemudian berdampak pula pada penutupan ribuan kios di pasar Tanah Abang yang sudah ada sejak abad ke-17 atau pada 30 Agustus 1735.

Pembangunan pasar Tanah Abang Pusat diprakarsai oleh Yustinus Wing, untuk menyaingi popularitas Pasar Senen yang menjadi kebanggaan Batavia.

Adapun izin pembangunan kedua pasar tersebut diberikan oleh Gubernur Jenderal Abraham Patras Mini.

Pada awal pembangunannya, pasar Tanah Abang secara khusus diperuntukkan sebagai pusat perdagangan tekstil serta barang kelontong.

Saat pertama kali didirikan, pasar Tanah Abang hanya terdiri dari 220 papan dan 139 petak bambu serta atap yang juga terbuat dari rumbia.

Baca Juga: Tes IQ: Temukan Huruf N di antara Deretan Huruf M, Latih Konsentrasi dan Fokus Mata!

Meski terbilang sangat sederhana, pendirian Pasar Tanah Abang benar-benar berhasil menyaingi kepopuleran Pasar Senen.

Pada tahun 1740-an pasar Tanah Abang sempat mengalami penurunan akibat adanya tragedi Chineezenmoord atau Geger Pecinan di Batavia.

Akibat peristiwa tersebut, pasar Tanah Abang mengalami kerugian karena terjadi perampasan barang dagangan.

Setelah peristiwa tersebut, pada tahun 1881 pembangunan pasar kembali dilakukan dan mengalami pemugaran pada 1913.

Pada tahun 1926 pemerintah kolonial Belanda membongkar pasar Tanah Abang dan mengganti bangunan secara permanen.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Gabungkan Kedua Telapak Tanganmu, Garis Pada Gambar Mana yang Sesuai?

Menyerupai kandang burung, pasar Tanah Abang terdiri dari tiga loss panjang dengan tembok papan serta beratap genteng.

Di tahun 1973, pasar Tanah Abang kembali diremajakan dan sempat mengalami kebakaran hebat di Blok A pada 30 Desember 1978 dan 13 Agustus pada 1979.

Seiring perkembangan zaman, perubahan-perubahan mulai dilakukan untuk memperbaiki kondisi fisik dan layanan pasar yang punya daya saing hingga ke mancanegara.

Pertumbuhan pembangunan membuat Pasar Tanah Abang kemudian dikenal sebagai pasar tekstil terbesar yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Dari layanan tersebut, pasar Tanah Abang mampu menghasilkan perputaran uang yang nilainya mencapai 200 miliar rupiah per hari.

Baca Juga: Caramu Membawa Tas Bisa Ungkap Banyak Hal Tentang Kepribadianmu, Kamu Tipe yang Mana?

Setiap mendekati bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri, kenaikan omset kerap terjadi hingga mencapai 30 persen pada pedagang yang jumlahnya lebih dari 3.016.

Karena perputaran ekonomi yang sedemikian besar tersebut, tidak mengherankan apabila seluruh Presiden Republik Indonesia pernah berbelanja di pasar ini.

Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Jumat, 13 Oktober 2023 dari kanal Youtube DAAI Magazine.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil