AYOJAKARTA.COM – Baru-baru ini para pedagang Tanah Abang sedang menghadapi kondisi yang cukup memprihatinkan, karena mengalami penurunan omzet yang sangat signifikan.
Adapun penurunan omzet tersebut terjadi lantaran sepinya pembeli atau pengunjung yang datang ke pasar Tanah Abang.
Bahkan ada juga sebagian dari para pedagang Tanah Abang yang terpaksa harus gulung tikar alias bangkrut. Sebagian pedagang yang bangkrut tersebut adalah pedagang tekstil.
Dikutip ayojakarta.com melalui suara.com, Sekjen Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan mengatakan kalau tidak sedikit pedagang yang harus gulung tikar atau bangkrut, dan sebagian besar adalah pedagang tekstil.
“Sebenarnya IKAPPI sudah menyampaikan ini beberapa saat yang lalu bahwa pedagang tekstil di seluruh Indonesia tidak hanya di Tanah Abang termasuk di pasar-pasar tradisional juga mengalami kebangkrutan," sebut Reynaldi.
Adapun faktor dari sepinya pengunjung di pasar Tanah Abang karena kehadirannya media sosial atau sosial ecommerce seperti TikTok Shop, Shopee, dan kompetitor lainnya.
Baca Juga: UMKM Kripik ‘So Kressh’ Punya Ribuan Re-Seller, Kerap Ikut Pameran BRI
Selain itu, penyebab lainnya ialah banyak toko online dari luar negeri juga turut mempromosikan barang dagangan ke Indonesia, seperti Thailand, Tiongkok, dan beberapa negara lain.
Sayangnya pemerintah tidak melakukan advokasi pendampingan terhadap pedagang untuk melakukan penjualan di online shop.
Alhasil Sekjen IKAPPI berharap agar pemerintah turut andil dengan bekerjasama dengan beberapa aplikasi seperti TikTok, Shopee, dan beberapa aplikasi lainnya yang dapat mendorong agar algoritma pedagang UMKM RI dapat diperkuat.
"Kami yakin bahwa jika ada keberpihakan dari pemerintah dan dapat mendorong agar aplikasi-aplikasi tersebut justru menampakkan keunggulan UMKM kita atau produk dalam negeri kita itu akan bisa membantu masyarakat kita atau UMKM kita untuk bertahan," kata Reynaldi.
Diharapkan juga bagi para pedagang untuk harus siap berhadapan pada gempuran produk luar yang harganya jauh lebih murah daripada produk dalam negeri.
Baca Juga: UMKM Binaan BRI Craftote: Gallery & Coffee, Ramah Lingkungan dengan Kualitas Ekspor
Reynaldi pun menggarisbawahi, dalam kesulitan semacam itulah pemerintah diharapkan dapat mencari solusi agar ada titik temu antara modernisasi berjualan dapat juga digunakan oleh para pedagang yang masih merintis atau usahanya masih kecil.
Diungkapkan Reynaldi, pengurus IKAPPI bahkan pernah menemukan pedagang yang ada penurunan omset sebesar 60%. Selain itu secara keseluruhan pasar-pasar tekstil dan untuk pasat tematik yang ada di Tanah Abang mengalami penurunan hingga 75%.