Metropolitan

Pernyataan Anies Baswedan Soal Tiga Variabel Pembunuh Demokrasi Menuai Kontroversi, Pengamat Politik Anggap itu Oase

Oleh: Karseno AJ Jumat 07 Mar 2025, 10:03 WIB
Pernyataan Anies soal pembunuh demokrasi menuai kontroversi.

AYOJAKARTA.COM – Dalam ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM), Anies Baswedan mengungkapkan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat membunuh demokrasi.

Menurutnya, demokrasi bisa mati jika aturan main diubah, lawan politik dieliminasi, dan wasit pemilu ikut bermain.

Pernyataan Anies tersebut langsung memicu beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Sebagian menilai bahwa mantan gubernur DKI Jakarta itu masih belum bisa move on dari Pilpres 2024.

Namun, ada juga yang menganggap pernyataannya sebagai kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden ketujuh dan kedelapan Republik Indonesia.

Kemenangan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden dalam Pilpres 2024 memang tidak lepas dari kontroversi di Mahkamah Konstitusi (MK).

Baca Juga: Pramono Anung Senang Lihat Anies dan Ahok Akur: Pertanda Baik untuk Masa Depan Jakarta

Perubahan aturan batas usia calon presiden dan wakil presiden yang dilakukan MK banyak dianggap sebagai "karpet merah" bagi putra sulung Presiden Joko Widodo.

Sementara itu, pernyataan Anies mengenai eliminasi lawan politik juga menimbulkan spekulasi.

Beberapa pihak menilai bahwa ini adalah bentuk curahan hati Anies, terutama setelah tidak ada satu pun partai politik yang bersedia mengusungnya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta, meskipun elektabilitasnya cukup tinggi.

Dugaan keterlibatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam memenangkan pasangan Prabowo-Gibran juga sempat memunculkan berbagai asumsi.

Namun, bagi sebagian kalangan, kritik yang disampaikan Anies dianggap sebagai bentuk kejujuran politik yang jarang muncul dari tokoh lain.

Baca Juga: Anies Dukung Trend 'KaburAjaDulu' tapi Beri Pesan dan Ingatkan Ini kepada Masyarakat!

Selain menyoroti kondisi demokrasi, Anies juga mengkritik kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto, khususnya terkait program makan bergizi gratis (MBG).

Menurutnya, kecukupan nutrisi memang penting, tetapi peningkatan budaya membaca dan literasi adalah aspek yang lebih mendasar bagi kemajuan bangsa.

Menanggapi pernyataan Anies, pengamat politik dari Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menyebut bahwa kritik tersebut justru menjadi oase di tengah kondisi demokrasi yang dinilai stagnan.

Menurut Adi, suara dari sosok independen seperti Anies sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan demokrasi.

Saat mayoritas partai politik menyatakan kesetiaan kepada pemerintahan Prabowo, kritik dari tokoh seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo menjadi bagian penting dalam menjaga dialektika politik yang sehat.

Oleh karena itu, Adi menilai bahwa kedua mantan calon presiden ini sebaiknya lebih sering tampil di ruang publik guna mendorong diskusi yang lebih dinamis dan kritis di tengah masyarakat.***

Reporter Karseno AJ
Editor Tedi Rukmana