AYOJAKARTA.COM – Dalam pidato politik yang disampaikan saat milad PKS beberapa waktu lalu, Anies Baswedan sempat mengkritik proyek jalan.
Pada pidato politik tersebut, Anies Baswedan membuat perbandingan proyek jalan di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Joko Widodo.
Buntut dari pidato politik tersebut, Anies Baswedan kemudian dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Relawan Ganjar Pranowo Center.
Meski mendapat penolakan dari Bareskrim Polri, adanya laporan tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk pelanggaran terhadap kebebasan menyampaikan gagasan.
Baca Juga: Sharing Ide dan Gagasan dengan Relawan, Anies Baswedan Punya Tujuan Ini Untuk Indonesia
Sejalan dengan makin gencarnya opini dan asumsi yang berkembang di masyarakat, Sudirman Said selaku juru bicara Anies Baswedan memberi penjelasan.
Menurutnya apa yang disampaikan Anies dalam pidato politik tidak lain merupakan sebuah bentuk inisiasi atau gagasan.
Dalam gagasan tersebut tersimpan harapan untuk melakukan perubahan jika dikemudian hari memiliki kesempatan.
“Satu pikiran kedepan bahwa apabila diberi kesempatan maka akan memperbaiki kebijakan dengan memperbaiki jalan,” jelas Sudirman, dikutip dari siaran MetroTV pada Jumat, 26 Mei 2023.
Lebih lanjut Sudirman menyampaikan bahwa dalam pidato yang telah disampaikan Anies tidak dimaksudkan untuk persoalan lain.
Pernyataan tersebut, Sudirman Said menambahkan berangkat dari realitas dari adanya perbedaan antara jalan berbayar dengan yang tidak berbayar.
“Sama sekali tidak ada kritik kepada jalan tol, tetapi hanya memberi perbandingan bahwa jalan-jalan yang tidak berbayar itu harus menjadi perhatian dari pemerintah,” jelasnya.
Selain itu, Sudirman juga menjelaskan bahwa politik yang dijalankan Anies adalah politik yang berpijak pada gagasan.
Baca Juga: Berada di Posisi Terbawah Dalam Survei, Anies Baswedan Tetap Santai: Masih Ada 8 Bulan
Sehingga perspektif dan merk politik yang kerap disampaikan ke publik cenderung bersifat perbaikan dan perubahan.
“Ini tidak ada kaitannya dengan pemerintahan yang sekarang bermasalah atau tidak, karena secara alamiah akan berganti,” imbuhnya.
Atas dasar pertimbangan tersebut, maka wajar dan tidak berlebihan apabila kemudian Anies menyampaikan gagasan terkait perubahan.
Mengenai pernyataan Anies yang kemudian menjadi konsumsi publik dan berkembang menjadi diskursus, hal itu menurut Sudirman adalah suatu hal menarik.
Baca Juga: Jawaban Skakmat dari Istana untuk Anies Baswedan Soal Kritikan Pembangunan Jalan Era Jokowi vs SBY
“Itu yang disebut sebagai politik mendidik, memberikan informasi kepada publik dan menjadikannya sebagai bahan edukasi masyarakat,” terang Sudirman.
Dengan adanya pembahasan di tengah masyarakat tentang suatu wacana atau gagasan, maka argumen atau data baru berpotensi untuk mencuat di masyarakat.
Publik akhirnya bisa mengetahui dan mencari tahu data-data real tentang perkembangan dari sebuah informasi yang sedang terjadi.
“Jadi ini adalah politik yang mencerdaskan, yang bisa direspon dengan data ataupun pandangan kebijakan di masa mendatang,” pungkas Sudirman Said.***