AYOJAKARTA.COM--Bencana gempa bumi yang selalu menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia, semakin hari semakin terasa.
Pasalnya tak hanya guncangan gempa yang menakutkan namun adanya prediksi gempa bumi dengan skala magnitudo besar dari peneliti luar negeri baru-baru ini semakin meresahkan.
Namun dalam kegaduhan yang diakibatkannya, BMKG telah memberikan tanggapan melalui Daryono (Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG) yang mengatakan bahwa prediksi tentang gempa tidak mempunyai dasar yang valid untuk dapat dipercaya.
Padahal sebelum beredarnya prediksi tentang gempa bumi tersebut, masyarakat pernah dihebohkan dengan kabar terkait aktivitas sejumlah sesar yang berada di wilayah DKI Jakarta dan aktivitas zona megathrust yang berada di selatan Pulau Jawa.
Bahkan para ilmuwan dalam negeri telah memperingatkan dan melakukan penelitian bahwa ancaman yang disebabkan oleh penyebab gempa tersebut kian nyata, di darat yang disebabkan oleh sesar salah satunya baribis dan di laut disebabkan oleh zona subduksi.
Aktivitas sesar Baribis yang memanjang 25 kilometer di selatan wilayah Jakarta ini bahkan telah menunjukkan keaktifannya saat dilakukan penelitian pada tahun 1996.
Dikutip dari sebuah penjelasan yang dilakukan oleh Daryono dalam tayangan YouTube DAAI Magazine (1/7/2022), dua orang peneliti geologi yaitu barber dan simanjuntak menerbitkan sebuah publikasi ilmiah bahwa ada sebuah pergerakan sesar naik yang berarah dari Purwakarta sampai Serang.
Namun penelitian tersebut diragukan oleh peneliti geologi lain, hingga akhirnya pada 10 Desember 2019 sebuah gempa mengguncang wilayah Bekasi dengan skala Magnitudo M3,2.
Bahkan tidak hanya berhenti disitu saja, pada tanggal 4 Januari 2021 sebuah guncangan gempa bumi dengan skala magnitudo M2,4 yang berpusat di Jonggol mengguncang wilayah tersebut.
Beberapa catatan gempa di masa lalu dengan skala kerusakan V-IX MMI pernah terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Dikutip dari Katalog Gempabumi Merusak 1612- 2014 yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, terdapat catatan sejarah terkait gempa bumi yang terjadi di sekitar wilayah Jakarta.
Baca Juga: Gempa Bumi 4.5 Magnitudo Guncang Kabupaten Bone, Kedalaman 132 KM
Salah satunya guncangan pada 10 Oktober 1834 yang terjadi di wilayah Bogor Cianjur dengan skala kerusakan VIII-IX MMI dan berakibat kerusakan bangunan dan retakan jalan antara Bogor-Cianjur.
Namun karena keterbatasan alat pada saat itu tidak diketahui berapa kekuatan gempa yang pasti.
Penyebab gempa yang tak kalah menakutkan lagi adalah yang disebabkan oleh pergerakan zona subduksi di laut.
Gempa yang terjadi di laut memang harus benar-benar kita waspadai, karena selain guncangan yang dapat membuat kerusakan, potensi tsunami yang bisa saja terjadi akibat gempa tersebut.
Baca Juga: Kamus Istilah: Kenali Perbedaan Megathrust dan Subduksi!
Seperti halnya peringatan yang dikeluarkan oleh sebuah artikel yang dirilis pada awal November lalu melalui laman news.abs-cbn.com yang mengatakan tentang kemungkinan terjadi gempa bumi megathrust yang akan terjadi diantara pulau Jawa dan Sumatra.
Melalui artikel tersebut dituliskan bahwa berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh jurnal Natural Hazards, para peneliti menemukan aktivitas seismik tinggi di pantai selatan Provinsi Jawa Barat dan bagian tenggara Pulau Sumatra yang dapat melepaskan gempa "megathrust".
Aktivitas seismik tersebut diperkirakan akan membuat adanya tsunami dengan ketinggian mencapai 34 meter yang dipicu oleh gempa bumi dengan kekuatan 8.9 SR.***