Metropolitan

Miris! 5 Tragedi Banjir Terparah di DKI Jakarta Sepanjang Sejarah, Bahkan Ada yang Mencapai 80 Orang Tewas

Oleh: Admin Jumat 08 Agu 2025, 13:31 WIB
Ilustrasi Banjir Jakarta

AYOJAKARTA.COM - Salah satu bencana yang yang tak terhindarkan di Ibu Kota DKI Jakarta ketika musim penghujan ialah banjir.

Banjir yang hadir di musim hujan, bagaikan tamu tak diundang yang selalu menjadi momok masyarakat ibu kota.

Terlebih ketika bencana yang sebenarnya merupakan ulah manusia tersebut merenggut nyawa.

Tahukah kamu ternyata ada 5 tragedi banjir di Jakarta yang dikategorikan terparah sepanjah sejarah.

Baca Juga: Proyek Tol Tempino–Ness Rampung Uji Laik, Percepatan Akses Transportasi Segera Terwujud

Lantas tahun berapa saja? Berikut informasinya dikutip ayojakarta.comd ari berbagai summber.

1. Banjir Februari 2007

Akibat intensitan hujan yang tinggi bahkan dikatakan ekstrem dan sistem drainase yang buruk di Jakarta menyebabkan tanggul Kanal Banjir Barat (BKB).

Banjir yang terjadi pada thaun 2007 ini menyebabkan korban jiwa sebanyak 80 orang serta kerugian mencapai Rp4,3 T.

2. Banjir Januari 2020

Masih karena curah hujan ekstrem di bulan Januari 2020 banjir kembali terjadi di DKI Jakarta dengan korban jiwa mencapai 66 orang.

Penyebabnya pun disebut masih karena drainase yag buruk hingga waduk yang tidak dikeruk.

Akibat banjir tersebut pemadaman serta gangguan terjadi di berbagai lokasi.

Baca Juga: Ramai PHK di Indonesia, Angka Pengangguran di DKI Jakarta Meningkat? Ternyata Masuk Kategori Menengah TPT

3. Banjie Januari 2013

Meluapnya sungai akibat curah hujan yang tinggi serta drainase yang buruk dan berkurangnya lahan resapan menyebabkan banjir dengan korban jiwa 47 orang serta kerugian mencapai Rp20 T.

4. Banjir Februari 1996

Korban jiwa mencapai 20 arang, luapan Sungai Ciliwung ketika hujan ekstrem menyebabkan berbagai dampak di ibu kota kala itu. Kerugian di tahun 1996 mencapai Rp6 T.

5. Banjir Januari-Februari 2002

Kerugian yang tak terhingga, hujan dengan durasi yang lama dan curah hujan yang tinggi kembali membuat banjir dan menyebabkan korban jiwa.
kali ini korban jiwa mencapai 21 orang.

Buruknya drainase hingga lahan resapan yang berkurang di DKI Jakarta menjadi salah satu masalah yang tak kunjung hilang.

Baca Juga: 9 Negara Ikut Berpartisipasi, IndoBeauty Expo 2025 Kembali Hadir Selama 3 Hari di JIExpo Kemayoran!

Bahkan di tahun 2025 ini tepatnya di bulan Maret, curah hujan yang tinggi kembali menyebabkan banjir.

Korban jiwa mencapai 9 orang bahkan balita berusia 2 tahun harus tewas karena terseret arus.

Untuk menghadapi banjir yang tak pernah hilang di DKI Jakarta, Pemprov DKI Jakarta masih berupaya melakukan berbagai cara.

Kekinian, hadirnya Kampung Proklim di sejumlah wilayah DKI jakarta.

Kampung Proklim ini hadir sebagai bentuk nyata dari masyarakat untuk iktu andil untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang berdampak pada iklam hingga menyebabkan banjir.

"Pengendalian banjir di Jakarta perlu ditingkatkan dengan pemetaan risiko secara presisi, implementasi program mitigasi serta penguatan sistem peringatan dini. Edukasi tentnag banjir dan perubahan iklim juga sebaiknya sudah dimulai sejak anak-anak untuk menyadari peran mereka dalam menjaga alam. Seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan transportasi publik untuk mengurangi pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan akhirnya berimbak pada banjir yang terjadi seperti saat ini," pungkas Luki Subehi selaku Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dikutip ayojakarta.com dari Instagram @dkijakarta.***

Reporter Admin
Editor Jinan Vania Barizky