AYOJAKARTA.COM – Richard Eliezer alias Bharada E menjadi terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Yosua.
Ia mengaku menembak Brigadir Yosua atas perintah atasannya yaitu Ferdy Sambo. Menurutnya dirinya merasa tidak berdaya dan merasa takut apabila tidak mengerjakan perintah dari jenderal.
Dalam mencari bukti-bukti atas kasus kematian Brigadir Yosua semakin terungkap, dalam persidangan dihadirkan saksi ahli.
Baca Juga: Bongkar Fakta Persidangan Terbaru, Ronny Talapessy Tegaskan Keadaan Richard Eliezer Tertekan
Salah satu saksi ahli yang dihadirkan di persidangan yaitu Ahli Psikologi Forensik yang menggali karakter dan sifat masing-masing dari terdakwa.
Saksi Ahli Psikologi Forensik, Reni Kusumowardhani dihadirkan pada persidangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2022).
Dikutip AyoJakarta.com melelui unggahan YouTube Kompas TV pada Kamis (22/12/2022), Reni menjelaskan hasil asesmen terdakwa Richard Eliezer.
“Bapak Richard disini secara umum taraf kecerdasannya tergolong rata-rata, kemudian potensi intelektualnya ini ditampilkan digunakan secara maksimal,” ujar Reni.
Reni juga menambahkan bahwa Richard Eliezer memiliki kapasitas intelektual yang relatif baik terutama untuk menghadapi tugas-tugas praktis dan sederhana di dalam kehidupan sehari-harinya.
Baca Juga: Bongkar Fakta Persidangan Terbaru, Ronny Talapessy Tegaskan Keadaan Richard Eliezer Tertekan
Tetapi menurutnya bukan pada tugas yang kompleks. Sedangkan untuk kapasitas fungsi dan memorinya Bharada E termasuk baik.
Ditanya oleh jaksa terkait tingkat kepatuhan dari terdakwa Richard Eliezer, Ahli Psikologi Forensik menuturkan kepatuhannya tinggi.
“Tingkat kepatuhannya Richard tinggi terhadap figure otoritas,” jawab Reni.
“Sugestible nya rata-rata, kepatuhannya tinggi,” tambahnya.
Mendengar kesaksian tersebut, kuasa hukum Richard Eliezer yaitu Ronny Talapessy memberikan tanggapan dan menanyakan kepada Ahli Psikologi Forensik terkait relasi kuasa.
“Ada relasi kuasa dimana pemberi perintah lebih memiliki kuasa di dalam relasinya dibanding yang diberi perintah yang posisinya adalah inferior,” jawab Reni.
Baca Juga: Indonesia Giving Fest 2022, Wadah Interaksi Masyarakat dan Organisasi Pengelola Zakat
Menurutnya itu semua kembali kepada tipologi kepribadian yang kemudian akan berujung pada pengambilan keputusan mengenai berani untuk assertive atau tidak berani untuk assertive.
Dan hal ini juga yang membedakan antara Richard dan Ricky dalam mengambil keputusan.
Karena perbedaan latar belakang, usia, kematangan emosional, dan kepribadian.
Sehingga keputusan perilakunya pun di dalam menerima atau tidak menerima perintah tersebut dalam relasi kuasa tersebut menjadi berbeda.
Ditanya oleh kuasa hukum Bharada E terkait kondisi psikologis saat diberi perintah menembak Yosua apakah termasuk kena mental atau tidak, Reni menjawab berdasarkan analisisnya.
“Kondisi psikologisnya saat itu diakui memang dalam ketakutan oleh saudara Richard Eliezer. Di dalam situasi ketakutan itu ada satu kondisi emosi yang memuncak,” jawabnya.
Baca Juga: Heboh! Ramalan Jayabaya Memprediksi Beberapa Sosok Pemenang Pilpres 2024: Prabowo Tidak Termasuk?
Emosi yang memuncak ini menurut Ahli Psikologi Forensik yang menjadikan seseorang untuk mengambil perilaku untuk mengerjakan ataupun tidak.
Ia juga mengungkapkan bahwa ciri Kepribadian Richard Eliezer belum matang, sehingga keputusan perilakunya untuk mematuhi yang tinggi berakibat efeknya merusak.
Menurut Reni, dari segi relasi kuasanya Richard bisa menjadi korban, tetapi sebenarnya ada keinginan bebas untuk menuruti atau tidak menuruti perintah.
“Kondisi Richard Eliezer berada di dalam situasi ketakutan yang luar biasa yang tidak mampu dia kendalikan juga untuk menolak,” terangnya ***