AYOJAKARTA.COM - Warga Cianjur masih dalam suasana duka usai gempa bumi yang mengguncang pada akhir November 2022 kemarin.
Terlebih kini BMKG meminta Pemkab Cianjur untuk segera relokasi permukiman warga di 9 desa yang berlokasi berbahaya.
Hal ini karena 9 desa di Cianjur berada di sepanjang zona sesar Cugenang yang baru dideteksi BMKG.
Sesar Cugenang ini baru ditemukan dan memiliki panjang 9 kilometer di bawah 9 desa yang ada di Cianjur.
Baca Juga: Tinggal Satu Langkah Lagi, Argentina Menuju Final! Ronaldo Berkata Seperti Ini...
BMKG meminta 9 desa di atas sesar Cugenang yang rawan gempa bumi ini segera direlokasi.
Hal ini karena 9 desa yang berlokasi di atas sesar Cugenang rawan gempa bumi, bahkan menyebabkan gempa Cianjur yang kemarin menelan banyak korban jiwa.
"Pemicu gempa Cianjur Magnitudo 5.6 pada 21 November 2022 lalu adalah patahan atau Sesar Cugenang. Ini adalah sesar yang baru teridentifikasi dalam survei yang dilakukan BMKG," ungkap Dwikorita dikutip AyoJakarta.com dari konferensi pers resmi BMKG.
Sebelumnya diduga penyebab gempa bumi Cianjur adalah sesar Cimandiri, namun ternyata ditemukan sesar baru yang diberi nama Cugenang.
Sesar Cugenang dinamai begitu karena patahan tersebut ada di wilayah Cugenang.
Baca Juga: Inilah 6 Kesaksian Putri Candrawathi yang Dibantah oleh Bharada E dalam Persidangan
9 desa yang ada di wilayah sesar Cugenang ini disarankan BMKG untuk segera direlokasi oleh Pemkab Cianjur.
Dari 9 desa yang dilintasi Sesar Cugenang, delapan di antaranya termasuk Kecamatan Cugenang.
Kedelapan desa itu di antaranya Desa Ciherang, Desa Ciputri, Cibeureum, Nyalindung, Mangunkerta, Sarampad, Cibulakan, dan Desa Benjot. Satu desa terakhir, Nagrak, lokasinya di dalam wilayah Kecamatan Cianjur.
"Karena Sesar Cugenang adalah sesar aktif, maka rentan kembali mengalami pergeseran atau deformasi, getaran dan kerusakan lahan, serta bangunan," ucap Dwi Korita.
Baca Juga: Ngunduh Mantu Kaesang dan Erina, Relawan Rela Gowes untuk Hadiri Acara
Bahkan area di atas sesar Cugenang ini harus dikosongkan dari hunian warga atau pemukiman.
Ditakutkan jika masih dijadikan tempat tinggal warga dan menyebabkan gempa bumi, kembali ada kerusakan fatal.
"Area sepanjang patahan harus dikosongkan dari peruntukkan sebagai pemukiman, sehingga jika terjadi gempa bumi kembali di titik yang sama, tidak ada korban jiwa maupun kerugian materil," imbuhnya.
Meski tak disarankan jadi hunian warga, Dwikorita memberikan sejumlah pilihan untuk pembangunan di tempat tersebut.
Baca Juga: Terkini! Wilayah Bali Diguncang Gempa Sebanyak 21 Kali Sore Tadi, Ternyata Ini Penyebabnya
Apalagi dibangun fasilitas umum dan sosial lainnya di jalur gempa sesar Cugenang ini.
Namun demikian, lanjut Dwikorita, area tersebut bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan.
Menurutnya, area yang berada di jalur Sesar Cugenang tetap bisa dimanfaatkan untuk keperluan pertanian, kawasan konservasi, lahan resapan, maupun dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan konsep ruang terbuka tanpa bangunan permanen.
"Poin utamanya, area lintasan Sesar Cugenang terlarang untuk bangunan tempat tinggal maupun bangunan permanen lainnya," pungkasnya.***