Metropolitan

Waspada! 8 Kabupaten Ini Berpotensi Tinggi Terdampak Gempa Megathrust 9,1 Magnitudo, Mana Saja?

Oleh: Rifqi Nur Fauzi Sabtu 10 Des 2022, 19:07 WIB
Terkonfirmasi! Sesar Baru Ditemukan: Patahan Cugenang Menjadi Pengebab Gempa Cianjur 5,6 Magnitudo

AYOJAKARTA.COM – Potensi Gempa Megathrust berkekuatan 9,1 masih menghantui dan mengancam Pulau Jawa hingga saat ini.

Bukan tanpa alasan, berbagai penelitian yang telah dilakukan memperkuat fakta bahwa memang ancaman Gempa Megathrust benar-benar nyata.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kegempaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan tentang potensi atau kemungkinan Gempa Megathrust berkekuatan tinggi yang akan mengguncang Pulau Jawa.

Baca Juga: Catat! Pengguna Kartu KIS BPJS Kesehatan Dapat 4 Bantuan Tunai dan Non Tunai di Tahun 2023, Begini Caranya

Ia sempat menyinggung tentang salah satu Gempa Megathrust yang pernah mengguncang Aceh beberapa tahun yang lalu.

Gempa Megathrust dengan kekuatan 9,1 Magnitudo tersebut memicu tsunami tinggi yang akhirnya menghancurkan seluruh daerah tersebut.

Abdul Muhari kemudian memberikan penjelasan berupa ilustrasi Gempa Megathrust sebagai sebuah kuncian pada zona lempeng laut yang menghujam ke bawah zona lempeng darat yang terus bergerak karena ada magma di bagian bawahnya.

Sementara itu, pergerakan magma yang berada di bawah zona lau tersebut tidak tertahan oleh kuncian apapun.

Baca Juga: Kepuasan Publik atas Kinerja Jokowi dan Ma'ruf Amin Melesat di 73 Persen! Kepala BKPM: Sejarah Baru

Hingga suatu saat, kuncian tersebut tidak akan sanggup menahannya lagi dan menjadi terlepas.

Di sisi lain, para ilmuwan diketahui telah melakukan pemetaan terhadap zona megathrust yang ada di seluruh wilayah Indonesia dengan periode ulang yang berbeda-beda.

Akan tetapi, kurangnya data pendukung yang valid membuat mereka sulit untuk memprediksi kapan terjadinya Gempa Megathrust ini.

Abdul menyebutkan bahwa gempa bumi megathrust ini diprediksi terjadi setiap 400 tahun, berdasarkan perhitungan menggunakan Global Positioning System (GPS).

Baca Juga: Bukan Lagi Jadi Fotografer, Ini Peran yang Tak Kalah Penting Menteri Basuki di Pernikahan Kaesang-Erina

Walaupun prediksi aktivitas kegempaan tersebut telah diketahui, tetapi para peneliti belum dapat memastikan dan membuat estimasi kapan terjadinya Gempa Megathrust di Pulau Jawa.

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa Gempa Megathrust dengan kekuatan dahsyat pernah mengguncang selatan Jawa pada tahun 1818.

Atas dasar hal tersebut, pihak peneliti belum dapat memperkirakan kapan terjadinya Gempa Megathrust karena mereka belum memiliki data sampai 400 tahun sejak terakhir kalinya terjadi.

"Dia bisa sampai itu dengan pereda akumulasi energi 400 tahun, sedangkan kita masih punya catatan sejarah terakhir di 1818, kita belum punya nih yang crossing sampai 400 tahun, jadi kita nggak tau nih ini terakhir, ini terjadinya kapan, sehingga kita masih belum bisa menentukan ini kira-kira berapa puluh tahun lagi dia akan mengulang dengan kekuatan 8,8 hingga 9," papar Abdul Muhari dikutip AyoJakarta.com dari YouTube BNPB Indonesia.

Baca Juga: Tambang Batu Bara di kota Sawahlunto Meledak, 9 Tewas dan 1 Masih Hilang!

Di sisi lain, Abdul kemudian menyebutkan bahwa di laut selatan Pulau Jawa, terdapat dua segmen megathrust yang ada di bagian barat dan timur.

Dua segmen tersebut bisa terpecah sendiri-sendiri menjadi dua guncangan gempa megathrust.

Guncangan pada bagian barat akan terjadi dengan kekuatan 8,9 Magnitudo, sedangkan bagian timur berkekuatan 8,8.

Di sisi lain, ada juga skenario lain ketika gempa terjadi secara bersamaan dengan kekuatan hingga 9,1 Magnitudo.

Baca Juga: Keberadaan Trisha Eungelica Dirahasiakan, Putri Sulung Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Malah Buat Hal Ini

Sementara itu, ada sebuah intepretasi model gempa dan tsunami dari harian kompas yang menjelaskan tentang beberapa area yang akan mendapat dampak paling besar.

Area tersebut tersebar dari bagian barat hingga timur Pulau Jawa, antara lain adalah Pandeglang, Lebak, Sukabumi, Cianjur, Kulonprogo, Gunungkidul, Bantul, hingga Pacitan.***

Reporter Rifqi Nur Fauzi
Editor Dian Naren