AYOJAKARTA.COM – Pemilik nama Edi Raharjo yang lahir pada 12 September 1967 di Brebes, Jawa Tengah dikenal publik sebagai Ki Ageng Rangga Sasana atau Lord Rangga.
Sejak banyak mengeluarkan pernyataan bombastis, nama Lord Rangga justru semakin dikenal lebih luas.
Terlebih ketika Lord Rangga yang mengklaim diri sebagai petinggi Sunda Empire tersebut tampil di stasiun tivi dimana Karni Ilyas bertindak sebagai host.
Dalam diskusi saat itu, Selain Saxophonis serta Dalang Sujiwo Tejo, hampir seluruh narasumber menahan tawa mendengar penjelasan Lord Rangga.
Meski sedang dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan, Lord Rangga justru tampil dengan penuh percaya diri dan menguasai materi.
Pada kesempatan tersebut, Lord Rangga berulang kali secara terbuka melakukan konfrontasi verbal dengan Roy Suryo.
Baca Juga: Richard Eliezer Bantah Kesaksian Ferdy Sambo: Tidak Ada Kata-Kata Ini
“Pemahaman Anda terhadap sejarah yang belum dalam,” ujar Lord Rangga yang kemudian disambut gelak tawa penonton.
Perseteruannya dengan pakar telematika Roy Suryo ketika menjadi narasumber di acara ILC membuat Lord Rangga dilaporkan ke polisi.
Selain karena dinilai telah melakukan tindakan pencemaran nama baik, melakukan dan menyebarkan kabar kebohongan atau hoaks.
Lord, demikian sapaannya juga dilaporkan ke pihak berwenang atas tuduhan mengubah sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan NATO di halaman Wikipedia.
Tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa Lord Rangga dan para pengikutnya adalah sekelompok orang dengan halusinasi.
Hingga pada 28 Januari 2021, Lord Rangga dan dua orang pengikutnya ditetapkan sebagai tersangka oleh tim Ditreskrimum Polda Jawa Barat.
Baca Juga: Miris! Momen Haru Dalam Persidangan Kasus Kematian Brigadir J yang Diperlihatkan oleh Susanto Haris
Namun dalam perkembangannya, ketika hasil psikologis Lord Rangga dan kedua pengikutnya dipublikasikan.
Publik kembali dibuat bingung, lantaran hasilnya tidak menunjukkan bahwa Lord Rangga dan kedua pengikutnya sehat secara psikis.
Dalam diskusi tersebut, Budayawan sekaligus Presiden Jancukers serta anggota Majelis Maiyah asuhan Cak Nun berkomentar.
“Kita menertawakan sesuatu karena perbedaan sudut pandang, kerajaan dan demokrasi sama-sama bisa menimbulkan gelak tawa,” buka Sujiwo Tejo.
Sujiwo Tejo melihat Lord Rangga sebagai bentuk kritik terhadap demokrasi, dan sekaligus simbol kerinduan terhadap kerajaan.
“Saat ditanya Cindy Adams kenapa Soekarno selalu tampil dengan pernak-pernik, Soekarno menjawab dengan kesadaran bahwa rakyat Indonesia ingin melihat Raja!” jelas Tejo.
Dan pada Rabu, 7 Desember 2022 Lord Rangga yang oleh Sujiwo Tejo disebut sebagai simbol sekaligus kritik terhadap demokrasi tersebut meninggal dunia.
Demikian seperti dikutip Ayojakarta dari kanal Youtube trending viral pada Rabu, 7 Desember 2022. ***