AYOJAKARTA.COM – Sebelum Indonesia lahir secara de jure, Patih Gajah Mada membentuk pasukan khusus Bhayangkara dengan tugas pokok melindungi Raja dan kerajaan Majapahit.
Sebagai standarisasi, Gajah Mada mewajibkan para anggota Bhayangkara menguasai teknik beladiri Sundang Majapahit atau Kali Majapahit yang kini diterapkan di Filipina.
Merunut laman resmi milik Polri, Sundang Majapahit sendiri merupakan teknik beladiri yang dikembangkan oleh Mahesa Anabrang, salah satu pelindung Raden Wijaya.
Maka ketika Ranggalawe berselisih paham hingga dianggap merongrong keutuhan Majapahit, Mahesa Anabrang ditugaskan untuk meredam.
Embrio Bhayangkara yang telah diwariskan Patih Gajah Mada, setelah melewati perubahan zaman kini menjelma hybrida baru bernama Polisi.
Atas rencana dan inisiasi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang menjabat Kapolri di tahun 1945 sampai 1959, polisi mengalami masa modernisasi.
Baca Juga: Kaesang Pangarep Sabar Meski Ibunya Diolok, Kini Pelaku Diburu Polisi karena Ditemukan Unsur Pidana
Namun di tahun 1962 ketika ancaman disintegrasi meningkat, Polisi dan TNI yang sebelumnya bernama TKR dilebur ke dalam satu wadah bernama ABRI.
Hingga pada tahun 1999, kembali terjadi pemisahan antara institusi TNI dengan institusi Polri dengan pokok tugas dan wewenang berbeda.
Sejak terpisah dari wadah ABRI, baik TNI dan Polri terus melakukan penyesuaian-penyesuaian di segala bidang.
Dalam rangka penyesuaian tersebut, di tahun 2016 Kapolri yang saat itu dijabat oleh Tito Karnavian memprakarsai lahirnya satuan tugas khusus, yakni Satgassus Merah Putih.
Baca Juga: Widy Vierratale Dilaporkan ke Bareskrim Polisi, Gara-gara Lakukan Ini di Panggung Usai Konser
Di unit khusus yang dibubarkan pada 11 Agustus 2022 oleh Kapolri Listyo Sigit Prabowo tersebut, nama Ferdy Sambo mendapatkan peran penting.
Namun sejak terjadinya kasus penembakan Brigadir Joshua pada 8 Juli 2022 silam, wajah kepolisian mendadak menjadi sorotan.
Bahkan kasus kematian Brigadir J sampai mendapat tanggapan secara khusus oleh Presiden Joko Widodo.
Penyebabnya, opini, dugaan, serta analisa-analisa liar terus berkembang hingga menjadi sesuatu yang tidak mungkin untuk dielak dan menghindar.
Menko Polhukam Mahfud MD menilai situasi yang terjadi di tubuh polri ketika itu adalah dampak dari genderang perang yang ditabuh sejumlah bintang.
Sementara menurut Soleman Ponto, Purnawirawan TNI AL yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis atau Kabais, mengatakan soal perlunya penyesuaian kedisiplinan di tubuh polisi..
“Persoalan yang terjadi di tubuh kepolisian tidak lain adalah karena perlunya penyesuaian aturan kedisiplinan,” ujarnya, baru-baru ini dalam tayangan YouTube Uya Kuya TV.
Soleman Ponto menambahkan, berdasarkan fakta historis sejak terpisah dari ABRI, institusi kepolisian tidak beda dengan anak Ayam yang kehilangan induk.
“Maka demi generasi yang akan datang, merevisi Peraturan Pemerintah tahun 2003 tentang disiplin Polri, perlu dilakukan.” tambah Soleman Ponto.***