TEBET, AYOJAKARTA - Harapan muncul di tengah terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia selama tiga bulan terakhir. Optimisme menuju endemi Covid-19 pun kian besar seiring dengan berbagai upaya pemerintah menekan potensi lonjakan gelombang ketiga.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa kasus Covid-19 yang terkendali di Indonesia perlu dibarengi dengan sikap kehati-hatian serta tetap waspada, mengingat lonjakan kasus yang terjadi di berbagai negara di dunia.
"Kita berharap perkembangan kasus di Indonesia yang semakin baik ini tetap bertahan. Bahkan pasca periode nataru yang seringkali menimbulkan lonjakan kasus," kata Wiku dalam keterangan resminya belum lama ini.
"Perlu menjadi perhatian juga, transisi menuju endemi dapat sewaktu-waktu terhambat akibat lonjakan kasus yang kembali terjadi," lanjut dia.
Adapun yang dimaksud dengan endemi adalah kondisi dimana kasus masih tetap ada di beberapa wilayah dengan jumlah kasus yang rendah dengan laju penularan stagnan.
Lebih jauh Wiku mengatakan, demi bisa menuju endemi, maka dibutuhkan kerjasama berbagai elemen masyarakat, juga sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ada sejumlah upaya yang dapat dilakukan agar target menuju endemi dapat terealisasi.
Pertama, penetapan indikator endemi secara luas atau percakupan daerah dilakukan oleh pemerintah dan berkonsultasi dengan pakar.
Kedua, pemantauan kasus melalui surveilans kasus dan genomik Covid-19 secara konsisten.
Ketiga, terus menekan angka kasus berat dan kematian menjadi angka kesembuhan yang tinggi melalui upaya vaksinasi, perawatan serta pengobatan kasus yang berkualitas.
Keempat, menjaga laju penularan tetap dalam kondisi rendah dan terkendali melalui upaya testing dan tracing, penyesuaian aktivitas masyarakat yang aman dan produktif serta mobilitasnya.
Momen Natal dan Tahun Baru diharapkan menjadi pembuktian Indonesia pada dunia dimana kita mampu mengantisipasi lonjakan kasus walau memasuki periode libur panjang.
"Saya pun meminta masyarakat Indonesia juga berempati untuk negara lain karena pandemi Covid-19 baru akan selesai apabila semua negara dapat mengendalikan kasus sehingga mendukung proses pemulihan ekonomi global," kata Wiku.
Optimisme Indonesia Keluar dari Pandemi Covid-19 Tahun 2022
Sejumlah ahli menilai bahwa virus corona akan tetap ada sampai kapanpun, namun bukan berarti status pandemi berlaku selamanya.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 sekaligus Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro mengungkapkan optimismenya. Dia mengajak seluruh masyarakat menjadikan tahun 2022 sebagai tahun terakhir Indonesia dalam masa pandemi.
Namun, untuk menuju ke sana, diperlukan beberapa upaya yang harus dilakukan. Selain disiplin menjalankan protokol kesehatan, masyarakat juga diminta mendukung percepatan vaksinasi dan ikut membantu menekan potensi munculnya gelombang ketiga Covid-19.
“Tahun 2022 adalah tahun ketiga kita berada di masa pandemi. Mari bertekad untuk jadikan ini tahun terakhir kita berada dalam masa wabah raya. Tunjukan lagi kerjasama yang solid dan gotong royong yang kuat, kekompakan tingkat tinggi untuk mencegah gelombang ketiga,” kata Reisa saat memberikan keterangan resminya, dikutip laman resmi Satgas Covid-19, Sabtu 20 November 2021.
“Dengan segenap kemampuan kita, dengan sukses menjadi Presidensi G20, dengan tetap menjadi salah satu tertinggi di dunia dalam memvaksinasi rakyatnya, dengan menjadi salah satu paling disiplin dalam prokes dan terbiasa dengan adaptasi kebiasaan baru, mari kita bersama pulihkan kesehatan dan bangkitkan ekonomi,” lanjut dia.
Percepatan dan pemerataan vaksinasi memang tetap menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam penanganan Covid-19. Selain terus memastikan pasokan vaksin aman, pemerintah juga mendorong masyarakat membantu tercapainya target 70% penduduk tervaksinasi pada akhir 2021.
“Hari ini bahkan sudah lebih dari 220 juta suntikan diberikan kepada masyarakat. Target WHO (Badan Kesehatan Dunia) bahwa 40 persen warga divaksin lengkap di akhir tahun ini pun sudah dilewati,” ujar Reisa.
Untuk meminimalisir gelombang ketiga, pemerintah juga berencana akan memberlakukan pengetatan mobilitas. Sejumlah kegiatan diusulkan dilarang pelaksanaannya, yaitu: acara pergantian tahun baik di luar maupun di dalam ruangan termasuk pesta petasan dan kembang api, pawai arak-arakan di tahun baru, even perayaan Nataru di mal, serta kegiatan seni budaya dan olahraga.
Selain itu, pengetatan dan pengawasan protokol kesehatan juga dilakukan di sejumlah destinasi, terutama di gereja pada saat perayaan Natal, tempat perbelanjaan, sekolah, restoran, dan destinasi wisata.
Lonjakan Kasus di Eropa Jadi Pelajaran
Meski optimisme diperlukan, namun peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara di Eropa harus dijadikan pelajaran agar pemerintah tak boleh lengah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pemerintah saat ini terus memantau perkembangan situasi pandemi Covid-19 secara global. Hal ini demi mengantisipasi potensi lonjakan gelombang ketiga.
“Semua gerakan atau kejadian kasus di negara-negara luar negeri ini kita pelajari dengan ketat, kita awasi dengan ketat dan kita laporkan ke Bapak Presiden agar membuat kita tetap waspada terutama di masa Nataru ini,” kata Budi dalam keterangan resminya pekan ini.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, meski ada peningkatan kasus di Eropa, namun negara-negara lain seperti India justru sudah mengalami pelandaian.
“India yang dulu pernah puncaknya terkena delta, sekarang masih landai sesudah 195 hari. Contohnya juga Afrika Selatan pernah kena delta juga sekarang melandai sudah 134 hari. Indonesia 124 hari, Maroko 101 hari, dan Jepang 86 hari,” ujar Budi.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi pandemi di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Namun, Budi mengingatkan seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap kenaikan kasus di setiap daerah. Utamanya dalam menjalankan disiplin protokol kesehatan.
"Walaupun memang jumlahnya masih kecil, positivity rate-nya masih rendah, BOR rumah sakitnya juga masih rendah, tapi kita mengikuti daerah-daerah ini agar jangan sampai kita terlambat kalau nanti ada kenaikan,” katanya.
Pmerintah daerah ikut diminta memperhatikan dan meningkatkan kedisiplinan dalam pengetesan dan pelacakan di daerahnya masing-masing. Hal ini dinilai penting untuk mencegah adanya gelombang baru.
"Jadi testing harus dilakukan terhadap orang-orang kontak erat hasil dari tracing. Kami melihat kota-kota yang ada kenaikan disiplin untuk tracing kontak eratnya dan melakukan testing bagi orang yang didefinisikan sebagai kontak kerat sudah sangat rendah,” ujar dia.
Terkait program vaksinasi, saat ini pemerintah Indonesia sudah menyuntikkan 225 juta dosis vaksin. Masyarakat yang belum divaksin diimbau untuk segera mendapatkan vaksinasi, terutama untuk para lansia.
"Tidak usah khawatir, vaksin-vaksin sudah terbukti aman, tidak usah ragu-ragu untuk segera divaksin, jangan sampai terjadi apa yang di Eropa bisa terjadi di Indonesia,” katanya.