Nasional

Maskapai Garuda Indonesia Terancam Ditutup, Utang Menggunung Capai Rp 70 T

Oleh: Admin Senin 25 Okt 2021, 08:08 WIB
dok. Garuda Indonesia

TEBET, AYOJAKARTA - Maskapai nasional Garuda Indonesia terancam ditutup. Utang salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menggunung hingga mencapai Rp 70 triliun. 

Sementara pemerintah Indonesia telah menegaskan tidak mungkin membantu dalam penyertaan modal oleh sebab kondisi keuangan negara.

Terkini, Garuda Indonesia disebut sedang dalam posisi negosiasi dengan para kreditur dan lessor atau perusahaan penyedia jasa leasing atau penyewaan.

Melansir BBC News Indonesia, dikutip Suara.com-jejaring Ayojakarta, Senin 25 Oktober 2021, Staf Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pemerintah tidak mungkin memberikan bantuan kepada Garuda Indonesia karena keuangan negara sedang fokus pemulihan ekonomi pasca pandemi.

"Jadi kita akan sangat-sangat bergantung pada negosiasi yang sedang dilakukan," imbuh Arya Sinulingga kepada BBC News Indonesia.

Karena itu ia berharap negosiasi tersebut berlangsung cepat atau tidak memakan waktu hingga tahunan. Sebab semakin lama, maka akan "memperparah kondisi maskapai" tersebut.

Sebab pemerintah, sambungnya, mustahil memberikan bantuan dana berupa penyertaan modal negara. Ini karena kas negara sedang diprioritaskan untuk pemulihan ekonomi akibat pandemi.

"Kalau negosiasinya enggak tercapai, maka kita akan tutup [Garuda Indonesia]."

Arya menjelaskan, kondisi keuangan Garuda Indonesia "sudah lama merah".

Penyebabnya kebijakan penyewaan pesawat yang dianggapnya tidak rasional dan adanya sejumlah rute penerbangan internasional yang justru merugikan.
 

Ada pesawat yang terbang saja rugi."

"Makanya kita sudah minta Garuda lebih fokus ke penerbangan dalam negeri. Pangkas rute yang merugikan. Kecuali penerbangan internasional yang sehat dan gemuk." 

Ia mengatakan opsi terakhir untuk menutup Garuda Indonesia adalah langkah realistis yang diambil pemerintah jika negosiasi buntu.

"Kita harus rasional. Mau APBN kita digerogoti hal begini atau enggak?"

Opsi Tutup Garuda Tak Dapat Dicegah

Sementara Pengamat penerbangan, Ziva Narendra Arifin beranggapan, opsi terakhir penutupan Garuda Indonesia tidak dapat dicegah.

"Ini bukan the end of the world, kita harus menerima realitanya," kata Ziva Narendra.

Dia juga mengatakan, jika Indonesia tidak lagi memiliki maskapai penerbangan nasional atau flag carrier, bukan menjadi indikasi lemahnya industri penerbangan di Indonesia.

Sebab beberapa negara seperti Amerika Serikat juga tidak memiliki maskapai penerbangan nasional.

Di dalam negeri, hilangnya Garuda Indonesia juga tidak akan berpengaruh besar.

"Efeknya lebih ke aspek psikologis industrinya, karena ini maskapai paling tua dan matang. Kok begini?"

Justru, baginya, peristiwa tersebut semestinya menjadi momentum untuk berbenah. Mulai dari isu duopoli dalam industri penerbangan domestik, infrastruktur, navigasi, birokrasi, termasuk investasi.

Hingga saat ini, katanya, investasi industri penerbangan di Indonesia termasuk 'high risk investment' dan dianggap tidak menarik oleh investor asing. Padahal sebagai negara kepulauan, peluang itu besar.

 
 
Reporter Admin
Editor Firda Puri