TEBET, AYOJAKARTA – Psikolog Klinis Anak dan Keluarga Ike Sugianto menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Satgas Penanggulangan Covid-19 Ikatan Psikologis Klinis Indonesia. Penelitian tersebut bertujuan untuk melihat permasalahan kesehatan mental yang kemungkinan terjadi dari perspektif siswa di masa pandemi Covid-19.
Penelitian tersebut dilakukan pada akhir 2020, dan dilakukan pada 15.304 siswa yang menjadi partisipan. Jumlah tersebut terdiri dari 60% anak perempuan dan 40% anak laki-laki.
Penelitian juga dilakukan secara merata di 32 provinsi di Tanah Air, dengan provinsi terbanyak pada jumlah partisipan yaitu dari provinsi Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Lampung.
Partisipan siswa terdiri dari 2.058 siswa di jenjang SD, 3.213 siswa di jenjang SMP, 4.747 siswa di jenjang SMA, dan 5.286 siswa di jenjang SMK. Hasilnya, siswa SD yang melakukan belajar dari rumah menunjukkan tingkat masalah emosi dan perilaku yang paling rendah, dibanding dengan cara belajar lain.
Di tingkat SMP, siswa yang melakukan belajar dari rumah menunjukkan tingkat masalah emosi dan perilaku yang lebih rendah, dibandingkan dengan cara belajar campuran yaitu belajar dari rumah dan pertemuan tatap muka. Jenjang SMA dan SMK berdasarkan cara belajar yang dilakukan, tidak terdapat perbedaan dengan cara belajar tatap muka.
Lalu, Ike menuturkan berdasarkan cerita-cerita dari murid-murid terapisnya, bahwa sebagian anak menikmati pembelajarannya dari rumah. Dia menilai, belajar dari rumah tidak sepenuhnya buruk.
“Kalau saya tanya sama murid-murid terapis saya, mereka juga kebanyakan bilang enak, bisa bangun siang. Kadang ada yang begitu bangun langsung duduk depan laptop, tidak susah harus bangun pagi dan harus transport ke sekolah. Ini menunjukkan belajar dari rumah tidak sepenuhnya buruk,” kata Ike saat menjadi pembicara yang disaksikan di YouTube FMB9, Kamis 2 September 2021.
Menurutnya, belajar dari rumah tidak selamanya memberikan dampak negatif kepada psikologis siswa, asalkan dibuat menarik. Ike menegaskan, kesehatan mental sleuruh pihak baik siswa maupun guru sangat diperlukan di dalam proses belajar ini.
Untuk itu, Ike membagikan dua tips utama tentang bagaimana cara guru dan orang tua membuat membelajarak menjadi menarik, efektif, dan menyenangkan. Tips pertama, kata Ike, yaitu para guru harus terlebih dahulu menyukai sistem belajar
“Bagaimana kita mau bikin belajar daring yang menyenangkan kalau secara pribadi kita sendiri sudah tidak suka,” paparnya.
Tips kedua yaitu para guru harus menguasai teknologi yang digunakan, dan berkembang bersama teknologi. “Contohnya membuat konten menarik dan menyenangkan disisipkan video dan quiz. Kita semua perlu menguasai teknologi dan feature aplikasi yang digunakan,” tegas Ike.
Di satu sisi, guru dan orang tua juga patut mewaspadai sebagian anak lain yang merasakan learning loss.learning loss adalah hilangnya kesempatan belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran yang mengakibatkan penurunan penguasaan kompetensi peserta didik. Hal ini telah terjadi di beberapa kasus anak di Indonesia sejak pandemi Covid-19 menyerang.
Motivator Character Building Nasional Aris Ahmad Jaya menyampaikan bahwa setidaknya terdapat lima cara tentang bagaimana peran orang tua dalam meminimalisir learning loss, khususnya pada karakter anak.
Tips pertama yaitu mengetahui kebutuhan anak. Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh Aris, anak membutuhkan apresiasi. Walaupun dalam kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kata dia, mengapresiasi proses jauh lebih penting dari sekedar mengapresiasi hasil akhir.
“Apresiasi anak-anak dengan kata-kata positif seperti ungkapan terima kasih. Sebutkan apa yang Anda sukai lalu berikan alasan mengapa layak diapresiasi. Lalu doakanlah anak-anak kita. Ini berlaku juga bagi guru-guru di sekolah,” ujarnya saat menjadi pembicara di webinar bertema learning loss bersama Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Tips yang kedua adalah kebersamaan waktu yang berkualitas, bukan hanya sekedar kuantitas. Menurut Aris, waktu yang banyak saat bersama anak belum tentu bersifat membersamai. Aris member contoh bahwa para orang tua harus membangun momentum seperti makan bersama, menonton tv bersama, dan diskusi bersama.
Tips yang ketiga adalah cerdas dalam berkomunikasi. Aris menekankan bahwa berkomunikasi bukan berarti pandai berbicara, namun pembicaraan yang disampaikan bisa diterima sang anak.
“Komunikasi adalah bagaimana mampu mengerti sebelum ingin dimengerti. Mau mendengarkan sebelum ingin didengarkan,” tutur dia.
Tips yang keempat menurut Aris adalah orang tua harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak. Dia menekankan, orang tua harus bisa memberikan contoh bagaimana mengelola emosinya dan bagaimana memberikan sikap disiplin yang bisa dicontoh anak.
“Dan tips yang terakhir adalah berikan dukungan dan kepercayaan atau minimal berikan kesempatan kepada anak atau peserta didik dalam mengeksistensikan dirinya,” pungkasnya.