TEBET, AYOJAKARTA – Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu kebijakan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi Nadiem Makarim. Program MBKM resmi diluncurkan pada awal 2020 lalu.
Terdapat 9 kegiatan yang ditawarkan dalam program ini. Sembilan kegiatan tersebut antara lain, Pertukaran Mahasiswa, Magang, Mengajar di Sekolah, Penelitian, Proyek Kemanusiaan, Kewirausahaan Mahasiswa, Studi/Proyek Mandiri, Membangun Desa, dan Bela Negara/Komp Cadangan.
Namun, belum semua kegiatan tersebut dibuka. Pada 2021, baru 4 program yang mencakup kegiatan-kegiatan tersebut, yang dapat diikuti secara resmi oleh para mahasiswa/i.
Empat program yang dibuka di 2021 diantaranya yaitu Kampus Mengajar, Magang dan Studi Independen Bersertifikat (microcredentials), Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), serta Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
Awal Mula Lahirnya MBKM
Latar belakang adanya MBKM yaitu untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa sesuai kebutuhan zaman, dan link and match dengan dunia industri, dunia kerja, dan dengan masa depan yang berubah sangat cepat.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Nizam, mengatakan Program MBKM menjadi salah satu kunci untuk menyelesaikan tantangan nasional. Tantangan nasional yang dimaksud seperti kebutuhan dasar pangan dan sandang yang masih impor, ketersediaan infrastruktur yang belum memadai, serta bahan baku industri yang masih banyak impor.
Nizam juga menuturkan bahwa adanya Program MBKM karena adanya perubahan kebijakan dasar pendidikan, dimana tadinya berbentuk prescriptive menjadi self-directed and flexible. Hal ini mengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi, cita-cita, aspirasi, dan passion yang berbeda satu dengan lainnya.
“Kemerdekaan untuk memilih jalan terbaik mengembangkan potensi diri melalui pembelajaran yang fleksibel, yaitu pendidikan yang memerdekakan dan memberdayakan,” tutur dia saat menjadi pembicara di Fellowship Jurnalisme Pendidikan 2021 yang diinisiasi oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan dan PT Paragon Innovation and Technology, Jumat 25 Juni 2021.
Inisiatif dan Inovasi Dunia Industri Dukung MBKM
Salah satu industri yang terus menciptakan ekosistem memajukan pendidikan Indonesia adalah PT Paragon Innovation and Technology. Perusahaan kosmetik lokal Indonesia ini tidak hanya terus berusaha mempercantik fisik manusia, namun hati dan pikiran manusia-manusia lewat kontribusinya di dunia pendidikan.
Paragon meluncurkan suatu program baru bernama Paragon EduLeads pada 21 Agustus 2021. Dengan menjunjung motto ‘BERMAKNA’ (bersama memajukan pendidikan Indonesia), Paragon EduLeads menjadi payung besar yang menginisiasi berbagai program pendidikan yang selaras dengan MBKM.
EVP & Chief Administration Officer PT Paragon Miftahudin Amin menyebut setidaknya ada 6 program yang ada di dalam Paragon EduLeads, yaitu:
- Paragon Internship Program
Paragon Internship Program, merupakan program dimana mahasiswa dapat mengajukan diri untuk berkesempatan magang di PT Paragon. Miftahudin menuturkan, di tahun 2021 ada 40 project yang sudah disiapkan pihaknya untuk para mahasiswa, yang nantinya akan dibagi untuk 60-70 peserta.
- Paragon Master Class
Paragon Master Class, yaitu mikrokredensial yang selaras dari program MBKM yaitu Studi Independen. Melalui program ini, Paragon berkontribusi untuk menyelenggarakan mata kuliah yang bisa dikonversikan setara dengan 20 sks.
“Jadi kaitannya tentang core bisnis di Paragon. Jadi mahasiswa bisa mengambil mata kuliah yang ada di Paragon, yang akan mendapatkan penyetaraan sks di kampusnya masing-masing,” ujar Employer Branding Executive PT Paragon Hana Kusumawardhani.
Dalam Paragon Master Class, Hana membeberkan pihaknya memberikan dua pilihan untuk program studi yaitu Product Innovation and Marketing Strategy in Cosmetics Industry dan Operational Excellence for Innovative and Purposeful Business.
“Masing-masing program ini memiliki objektifnya masing-masing, tentunya untuk menambah pemahaman mahasiswa lebih luas melalui kacamata industri. Harapanya mereka bisa menambah wawasan mereka, tidak hanya dari sisi akademiknya saja tapi juga dari sisi industri,” jelas Hana.
Nantinya, mahasiwa dapat memilih salah satu dari dua program studi tersebut sesuai dengan minat mereka, yang tentunya sejalan dengan karir plan para mahasiswa.
Untuk studi Operational Excellence for Innovative and Purposeful Business, untuk memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk membuat project bisnis plan di industri customer goods.
Lalu untuk progam Product Innovation and Marketing Strategy in Cosmetics Industry, lebih mengarahkan mahasiswa untuk dapat membuat project untuk inovasi produk dan strategi pemasaran.
- Paragon Innovative Fellowship
Paragon Innovative Fellowship merupakan kesempatan kepada mahasiswa yang setelah melakukan magang namun ingin melanjutkan programnya untuk tugas akhir, dimana mengaitkan antara entrepreneurship dengan proposal dan sosio-edukasi.
- Paragon Scholarship
Miftahudin berharap pihaknya terus menjadi bagian dari kontribusi untuk membantu para mahasiswa. Dia menegaskan Paragon tidak hanya membantu dari segi pendanaan, namun juga membantu untuk mengembangkan individual mahasiswa, bahkan hingga tahun ke-4.
- Novo Club
Merupakan suatu klub untuk mendorong inovasi ekosistem pendidikan, terutama untuk mahasiwa.
- Paragon Inspiring Lecturer
Sebuah program persembahan Paragon untuk peningkatan kapasitas para dosen inspiratif Indonesia.
Untuk Paragon Internship Program, Miftahudin membeberkan bahwa program ini menjadi top ranking dari banyaknya mahasiswa yang mendaftar untuk program magang di MBKM. Lalu untuk Paragon Scholarship, terdapat 15 kampus terpilih di Indonesia yang berkesempatan menjadi bagian di dalamnya.
Terdapat tiga macam beasiswa yang ditawarkan Paragon, yaitu beasiswa pemberdayaan, beasiswa prestasi, dan beasiswa tugas akhir. Masing-masing kampus sudah di-plot ke tiga macam beasiswa yang disediakan, dimana mahasiswa/i bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi penerima manfaat.
Bagi Politeknik Negeri Bandung, Universitas Sumatera Utara, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Airlangga, UIN Jakarta, dan Universitas Andalas tergabung ke dalam kampus penerima beasiswa pemberdayaan.
Kemudian untuk mahasiswa/i dari Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Telkom tergabung ke dalam kampus penerima beasiswa prestasi dan tugas akhir.
“Ke-6 program ini yang kita ingin baktikan untuk negara khususnya di bidang pendidikan. Karena kita yakin dengan program pendidikan yang terstruktur, berkualitas, dan linked antara industri dan lembaga pendidikan, kita akan memberikan pengembangan kualitas mahasiswa,” ujar Miftahudin, Selasa 24 Agustus 2021.
Dia berharap, dengan adanya inovasi dan dukungan terhadap program serta kebijakan pemerintah di dunia pendidikan, akan terbangun link and match industri dan lembaga pendidikan dengan sendirinya di Indonesia.
Eksekusi Program MBKM di Lapangan
Salah satu kampus yang turut aktif berpartisipasi dalam MBKM yaitu Universitas Indonesia (UI). Bahkan, kampus UI mencetak jumlah peserta paling banyak dalam program MBKM dibanding kampus-kampus lainnya.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat UI Amelita Lusia. Dia membeberkan, dari 4 program yang diluncurkan pada 2021, Kampus Mengajar masih minim peminat.
“Untuk Magang dan Studi Independen tercatat total 561 mahasiswa, dimana 460 orang magang dan 101 studi independent. Mereka melakukannya di lembaga pemerintah dan industri-industri,” tuturnya saat diminta keterangan oleh Ayojakarta, Jumat 27 Agustus 2021.
Lalu untuk program IISMA, Amelita menyebut kampusnya akan memberangkatkan 92 mahasiswa. Dia mengatakan jumlah mahasiswa UI yang mendaftar di program ini mencapai 215 orang.
Dari jumlah tersebut, hanya 153 mahasiswa yang berhasil mendapatkan surat rekomendasi dari universitas untuk mengikuti seleksi di tingkat nasional. Adapun, kata Amelita, seleksi tersebut terdiri dari tes tetulis dan wawancara, yang diikuti lebih dari 2 ribu mahasiswa dari seluruh Indonesia.
“Setelah melalui proses seleksi di tingkat nasional, terpilih 97 mahasiswa dari UI yang berhak mendapatkan pendanaan dari IISMA, namun lima orang mengundurkan diri, sehingga jumlah akhir penerima beasiswa adalah 92 orang. Setiap peserta akan mendapatkan tuition fee, biaya hidup, asuransi, serta biaya pembuatan visa dan tiket pesawat,” jelasnya.
Amelita mengatakan pihaknya cukup suportif untuk mendukung seluruh kebijakan yang ada dalam MBKM, termasuk soal konversi mata kuliah. Pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, diketahui UI menerima 63 orang dari program studi di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari luar Pulau Jawa.
“Mahasiswa dapat mengkombinasikan mata kuliah yang ditawarkan perguruan tinggi penerima (paling sedikit 8 sks mata kuliah dan 2 sks modul nusantara (wajib)) dengan mata kuliah dari perguruan tinggi lain (dilakukan secara daring),” ucapnya.
Terkait kesempatan beasiswa yang diberikan PT Paragon kepada mahasiswa UI, Amelita membeberkan bahwa perusahaan yang mengeluarkan brand Emina itu merupakan mitra UI yang sangat supportif.
“Paragon merupakan mitra kami yang sangat suportif dalam kegiatan-kegiatan di UI. Kami berterima kasih untuk kerja sama dan kepercayaan dari para mitra kepada UI,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis dalam rangka Program Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch II yang digelar oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation.