TEBET, AYOJAKARTA -- Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono menilai bahwa suatu negara yang bergantung hanya pada vaksinasi sebagai jalan keluar dari pandemi adalah pilihan kebijakan yang berisiko tinggi.
Dia menyoroti skenario awal pemerintah bahwa herd immunity akan diraih dengan vaksinasi massal 181,5 juta orang, yaitu penduduk 18 tahun ke-atas. Namun skenario tersebut, kata Yusuf, dinilai sudah tidak akurat.
Yusuf menjelaskan skenario tersebut masih menggunakan rencana awal, di mana hanya ada satu jenis virus asal Wuhan saja. Selain itu, vaksin yang umumnya dipakai di Indonesia juga berasal dari virus varian awal yang dimatikan.
Dengan adanya banyak mutasi baru Covid-19, rencana awal pemerintah itu, kata dia, herd immunity sulit dicapai. Dia mengatakan, dibutuhkan vaksin dengan efikasi tinggi setidaknya hingga 80 persen.
“Terlebih kini dengan kehadiran varian baru yang jauh lebih menular seperti Alpha reproduksi penularannya 4,5 (R0 = 4,5) dan Delta (R0 = 6,5), kita membutuhkan vaksin dengan efikasi sangat tinggi sekaligus cakupan vaksinasi yang sangat luas,” ungkap Yusuf dalam keterangan yang diterima Ayojakarta, Sabtu 14 Agustus 2021.
Dia menambahkan untuk varian Alpha (R0 = 4,5) setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 85 persen dengan cakupan vaksinasi 92 persen populasi. Sedangkan untuk varian Delta (R0 = 6,5) setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 90 persen dengan cakupan vaksinasi 94 persen populasi.
“Target yang nyaris mustahil diraih ditengah berbagai keterbatasan yang ada. Kendala pasokan dan distribusi, yaitu ketersediaan vaksin impor dan kecepatan vaksinasi yang rendah, dipastikan membuat skenario herd immunity akan sangat sulit tercapai,” ujar Yusuf.
Dia menyebutkan bahwa tantangan besar lain adalah struktur geografis dari herd immunity. Berdasarkan penelitiannya, resistensi lokal terhadap vaksinasi akan menghasilkan daerah kantong penyakit endemik.
“Meski suatu daerah telah memiliki tingkat vaksinasi tinggi, seperti DKI Jakarta, namun jika daerah sekelilingnya tidak memiliki hal yang sama, sehingga penduduk akan bercampur, maka potensi ledakan wabah tetap tidak akan hilang,” paparnya.
Kompleksitas mencapai herd immunity ini, kata Yusuf, diperparah dengan adanya data yang menunjukkan bahwa imunitas populasi, baik yang berasal dari vaksin maupun infeksi sebelumnya, tidak bertahan selamanya.
“Antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac misalnya, menurun di bawah ambang batas setelah 6 bulan,” imbuhnya.
Sebagai informasi, terdapat penelitian yang dilakukan oleh Universitas Thammasat di Bangkok dan National Centre for Genetic Engineering and Biotechnology (Biotec) soal vaksin Sinovac.
Direktur Veterinary Health Innovation and Management Research Group of Biotec Anan Jongkaewwattana mengatakan, pada 500 orang yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Sinovac, level antibodi mereka turun 50 persen setiap 40 hari.