Nasional

Pemberlakukan Jam Kerja Tak Rasional, Karyawan BRI Berpeluang Bertindak Fraud

Oleh: Admin Kamis 11 Feb 2021, 13:17 WIB
Kantor BRI Kanwil Bandung di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Fichri Hakiim)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Pemberlakuan jam kerja yang tidak rasional bagi karyawan BRI ternyata bisa berdampak pada nasabah. Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Acu Viarta Katabi.
 
Menurutnya, jam kerja dan reward bagi karyawan harus diperhatikan. Termasuk hari libur bagi karyawan yang harus disediakan. Pasalnya hal-hal seperti itu bisa berdampak pada aktivitas pekerjaan dan bersifat kurang baik bagi perusahaan

"Misalnya, karena pekerja diberi intensitas tinggi, bisa saja para tenaga kerja di lapangan melakukan hal-hal yang berindikasi fraud. Kemudian berdampak pada layanan nasabah," ujar Acu pada Ayobandung.com, Kamis (11/2/2021).

Acu menuturkan, sebaiknya BRI memperhatikan kemampuan pasar saat menetapkan target. Pada kondisi ekonomi stagnan seperti sekarang, maka target pun harus disesuaikan.

Jika dipaksakan, maka dampaknya akan kurang bagus. Ia juga menyarankan agar aspek penilaian terhadap kinerja bagi karyawan BRI diperbaiki. Termasuk masalah mutasi karyawan.

Di sisi lain, overload jam kerja ini juga bisa berdampak pada nasabah. Di mana nasabah juga akan ikut tertekan, sehingga kualitas layanan BRI menurun.

"Dalam kondisi sekarang, semua nasabah pasti terdampak pandemi Covid. Sementara dari sisi perbankan adaptasinya terbatas. Mungkin bisa dikatakan, tidak terlalu banyak insentif yang diberikan perbankan. Kita memahami bahwa kualitas pelayanan pasti akan berkurang. Ini akan menyusahkan nasabah," ujar Acu.

Meski begitu, BRI masih bisa menjaga citra baik perusahaan dengan memperbaiki pola kerja dan insentif karyawan. Selain itu, hal yang paling penting adalah memperbaiki kuliatas layanan dan efisiensi. Misal dengan memberikan bunga yang lebih kompetitif dan pelayanan yang lebih humanis.

"Karena kalau karyawan ditekan, mereka akan melakukan hal yang sama pada nasabah. Nanti komunikasinya jadi kurang baik. Padahal kan kita berpikir tidak jangka pendek. Kalau nasabah memiliki kemampuan, pasti dia akan memperbaiki cashflow pembayarannya," kata Acu.

Ia sendiri menyayangkan, sikap BRI selama pandemi ini. Karena berdasarkan informasi yang diterima, tekanan terhadap nasabah oleh marketing BRI juga cukup intens dalam iklim pandemi sekarang dari pada sebelumnya.

"Seperti penagihan oleh kolektor, sekarang makin digencarkan. Karena mereka mengejar target tadi. Ini kan menyuliskan nasabah, apalagi sedang pandemi. Kalau kondisi normal mah oke-oke saja," ungkap Acu.

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono