TEBET, AYOJAKARTA.COM – Awal Maret 2004, mayoritas surat kabar nasional memajang berita berisi pernyataan keras almarhum Taufik Kiemas, suami Presiden ketika itu, Megawati Soekarnoputri.
TK, begitu mantan Ketua MPR biasa dipanggil, menyebut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat itu Menteri Koordinator bidang Politik Keamanan (Menko Polkam) kabinet Gotong Royong yang dipimpin Megawati, sebagai jenderal kekanak-kanakan.
Pernyataan pedas TK itu merupakan respos dari keterangan SBY di media massa mengenai dirinya sebagai Menko Polkam yang beberapa kali tidak diikutsertakan dalam rapat kabinet oleh Presiden Megawati.
“Mestinya dia (SBY) datang ke Ibu Presiden, tanya, kok enggak diajak (rapat kabinet). Bukannya ngomong di koran, seperti anak kecil. Masa jenderal bintang empat takut ngomong ke presiden,” ucap TK seperti dilansir media massa ketika itu.
Bahkan, TK menyarankan agar SBY mundur dari Kabinet kalau memang merasa dikucilkan. “Kalau anak kecil lagi genit-genitan, ya merasa diisolasi seperti itu. Kalau memang bukan anak kecil dan merasa dikucilkan, lebih baik mundur.”
Komentar pedas TK itu bersambut. Meski tidak menanggapi pernyataan Taufik Kiemas di media massa, SBY memilih mundur dari jabatannya sebagai Menko Polkam pada 11 Maret 2004.
Namun, banyak pengamat politik yang menilai pernyataan TK justru semakin melambungkan nama SBY. Bersama Partai Demokrat, SBY semakin bersinar dan mendapatkan simpati publik karena dinilai sebagai sosok yang terzalimi.
SBY bersama Jusf Kalla pun terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2004-2009.
Kini hampir 17 tahun berselang, putra sulung dari SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengalami nasib yang hampir serupa. Bermula ketika AHY melemparkan tudingan bahwa ada kelompok yang hendak melakukan kudeta atas kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Bahkan, seperti dinyatakan dalam konferensi pers pada Senin 1 Februari, AHY mengaku mendapatkan informasi bahwa gerakan tersebut didukung oleh pembantu atau orang dekat Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Memang, AHY tidak menjelaskan siapa tokoh di Istana yang disebut-sebut ambil bagian dalam rencana kudeta di Partai Demokrat. Nama mantan Panglima TNI itu disebut oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Andi Arief lewat kicauan di akun Twitter pribadinya, @Andiarief__.
“Banyak yang bertanya siapa orang dekat Pak Jokowi yang mau mengambil alih kepemimpinan AHY di demokrat, jawaban saya KSP Moeldoko. Kenapa AHY berkirim surat ke Pak Jokowi, karena saat mempersiapkan pengambilalihan menyatakan dapat restu Pak Jokowi.”
Begitu kicauan Andi Arief di Twitter beberapa jam setelah AHY memberikan keterangan pers.
Moeldoko pun kemudian bereaksi dengan menggelar keterangan pers secara virtual, Senin malam (1 Februari). Meski tidak langsung menyebut AHY, Moeldoko mengingatkan agar seorang pemimpin jangan gampang baperan (terlalu terbawa perasaan).
“Saran saya ya, menjadi seorang pemimpin, seorang pemimpin yang kuat. Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang-ambing dan seterusnya. Ya kalau anak buahnya nggak boleh kemana-mana ya diborgol aja, kan gitu aja.”
Kita tunggu saja, apakah pernyataan Moeldoko yang menyindir AHY agar jangan baperan justru melambungkan nama Ketua Umum Partai Demokrat itu seperti yang terjadi pada ayahnya, SBY.