Nasional

Pengetesan Covid-19 Kota Bandung Terganjal Kapasitas Lab

Oleh: Admin Rabu 02 Des 2020, 17:26 WIB
Ilustrasi kasus Covid-19 (dok Republika)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Pekan ini, Kota Bandung berada di zona risiko tinggi penyebaran Covid-19 alias zona merah. Positivity rate kasus Covid-19 di Kota Bandung pun telah jauh melampaui batas maksimal yang ditetapkan WHO.

Hingga 26 November 2020, angka positivity rate Kota Bandung mencapai 21,53%, empat kali lipat lebih besar dari batas maksimal WHO yakni 5%. Angka yang lebih tinggi dari 5% mengindikasikan banyaknya kasus positif Covid-19 yang belum terdeteksi.

Idealnya, seiring dengan bertambahnya angka kasus positif di Kota Bandung, jumlah pengetesan pun terus ditambah untuk mempercepat pelacakan kasus yang tersebar. Epidemiolog Universitas Padjajaran Panji Fortuna mengatakan, salah satu penyebab positivity rate yang tinggi adalah kemampuan pelacakan kasus yang masih rendah.

"Positivity rate tinggi artinya kemungkinan besar penambahan jumlah testingnya tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif. Mungkin yang terjadi adalah kita tidak bisa mengidentifikasi kebanyakan kasus yang ada di masyarakat. Kemampuan deteksi kita masih kurang," ungkapnya ketika dihubungi belum lama ini.

Meskipun saat ini Pemerintah Kota Bandung meyebut bahwa jumlah pengetesan yang dilakukan telah memenuhi standar WHO, yakni 1% dari total jumlah populasi, namun hal tersebut belum cukup. Pasalnya, laju kenaikan kasus positif masih terus bertambah.

"Saya rasa indikator WHO itu indikator minimum. Paling tidak harus mengetes dalam jumah segitu (1%), tapi kecukupannya tidak boleh hanya dilihat dari indikator itu saja," ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan pihaknya masih kesulitan untuk melakukan pengetesan PCR massal di luar tracing kontak erat. Kapasitas laboratorium yang terbatas menjadi persoalan.

"Ini kan keterbatasan alat juga, memang (pengetesan PCR) harus prioritas. Kita sedang menuntaskan tes pada tenaga kesehatan karena mereka banyak berinteraksi dengan yang terinfeksi, mereka risiko tinggi," ungkapnya di Balai Kota Bandung, Rabu (2/12/2020).

Selama ini, ia mengatakan, pengetesan PCR di Kota Bandung baru diperuntukkan bagi para kelompok yang dianggap rawan dan masyarakat yang 'terjaring' hasil tracing kontak erat kasus positif. Tes PCR baru akan diberikan pada warga yang memiliki hasil rapid test reaktif.

"Jadi memang harus rapid dulu, kalau harus langsung PCR kita juga tidak sanggup," ungkapnya.

Yana menyebutkan, salah satu kendala adalah kapasitas laboratorium pemeriksa sampel Covid-19 yang terbatas. Saat ini, Kota Bandung hanya memiliki satu laboratorium Biosafety Level (BSL-2) yang digunakan untuk memeriksa sampel-sampel tes PCR dari berbagai rumah sakit rujukan Covid-19 tingkat kota, ataupun dari pengetesan masif di sejumlah kelompok rentan seperti tenaga kesehatan.

"(Kendalanya) kapasitas lab juga. Kalau (sampel tes) semakin menumpuk dan kapasitas lab tetap, akan semakin lama hasilnya keluar. Misalnya kapasitas 200 sampel sehari, tapi sampel yang diambil 1.000 atau 2.000 sehari, maka akan semakin lama (hasilnya keluar)," ungkapnya.

Bila jumlah tes PCR ditingkatkan tanpa meningkatkan kapasitas lab, ia mengatakan, hal tersebut berpotensi memunculkan kekhawatiran masyarakat. Menurutnya, warga yang menunggu hasil tes PCR umumnya akan merasa cemas.

"Saya juga merasakan faktor psikologis saat menunggu hasil swab. Kalau sampai harus menunggu seminggu, itu akan deg-degan. Sementara faktor psikologis juga kan berperan dalam menurunkan imunitas," ungkap Yana.

Adapun saat ini, kapasitas pemeriksaan sampel tes PCR di lab BSL-2 Kota Bandung mencapai 200 sampel per-hari. Secara teori, satu sampel tes Covid-19 hasilnya dapat keluar dalam 4-5 jam. Namun, karena jumlah antrean yang tinggi, maka hasil satu sampel PCR dapat keluar dalam beberapa hari. (Nur Khansa)

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono