JAKARTA - Sejak bulan Oktober 2020, Pemerintah Indonesia melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyosialisasikan upaya penanggulangan Covid-19 dengan kata kunci aman, iman, dan imun. Hal tersebut disampaikan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Doni Monardo dalam Agenda Konferensi Harian BNPB, Jumat (16/10/2020).
Doni menjelaskan makna dari ketiga kata tersebut. Pertama adalah Aman yang bermakna patuh terhadap protokol kesehatan. "Supaya kita aman, kita patuh terhadap protokol kesehatan. Apa itu, yaitu menjaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan, lalu cuci tangan sesering mungkin menggunakan sabun dan air mengalir, atau kalau tidak ada bisa menggunakan hand sanitizer. Tetapi itu saja belumlah cukup," terang Doni.
Kepatuhan protokol kesehatan tersebut juga harus dilengkapi dengan Iman yaitu meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersabar. "Harus dilengkapi dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT, kepada pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita harus bersabar menghadapi musibah ini. Dengan bersabar diharapkan kita bisa mengendalikan diri," lanjut Doni.
Sementara Imun merupakan pengingat agar masyarakat meningkatkan imunitas. "Dengan cara olahraga teratur, istirahat yang cukup, tidak boleh begadang, makan makanan yang berkualitas, minum vitamin, tidak boleh panik, dan hati pun harus gembira," tambahnya.
Pandemi Covid-19 berdampak tidak tidak hanya pada persoalan kesehatan (medis), tetapi juga menimbulkan masalah di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan aspek psikologis. Itulah mengapa imunitas yang di dalamnya mencakup hal psikologis menjadi bagian penting dari pencegahan penularan Covid-19.
Lebih lanjut menurut Doni, bila dilihat secara medis, kematian dan keparahan akibat Covid-19 lebih banyak terjadi pada pasien lanjut usia dan individu-individu yang sedang atau pernah memiliki riwayat penyakit diabetes, jantung dan penyakit kronis penyerta lainnya. Menariknya, tidak semua pasien Covid-19 menunjukkan gejala, atau hanya menunjukkan gejala yang ringan saja. Hal ini diduga akibat perbedaan kekuatan sistem imun tubuh, di mana pada usia dewasa dan muda, sistem imun lebih kuat daripada pasien usia lanjut.
Pentingnya Imunitas Untuk Lawan Covid-19
Penyakit akibat virus memang pada umumnya merupakan ‘self-limiting disease’ yang mengandalkan kekuatan pertahanan tubuh. Karena itu telah banyak dikampanyekan untuk meningkatkan daya tahan tubuh guna mencegah tertularnya infeksi virus, dan kalaupun tertular, tubuh akan kuat melawannya.
Telah banyak literatur yang berusaha menjelaskan upaya yang dapat memperkiat daya tahan tubuh terutama pada saluran infeksi pernapasan. Diantaranya seperti, berhenti merokok & konsumsi alkohol, memperbaiki kualitas tidur, dan mengonsumsi suplemen. Berhenti merokok dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan atas dan bawah (Feldman & Anderson, 2013). Kurang tidur juga dapat berdampak terhadap imunitas. Gangguan tidur berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.
Rutin berolahraga dan menjaga kebugaran tubuh dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan mempertahankannya sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit. Perlawanan terhadap penyakit tergantung pada kualitas sistem kekebalan tubuh, jika dalam keadaan optimal maka akan terhindar dari penyakit sedangkan apabila menurun maka akan mudah terserang penyakit (Yuliarto, 2008).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti menjelaskan hubungan antara imunitas tubuh terhadap kerentanan seseorang dalam tertular virus COVID-19. “Umumnya, ketika virus menyerang manusia maka akan dihadang oleh sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh inilah yang dapat mencegah proses terjadinya infeksi oleh virus. Maka dengan meningkatkan kekebalan tubuh menjadi salah satu upaya mencegah tertular suatu penyakit akibat virus salah satunya COVID-19,” papar Widyastuti.
Dalam beberapa riset menegaskan faktor psikologi turut memengaruhi tingkat imunitas seseorang. Perasaan resah, gelisah, dan ketakutan kerap dirasakan masyarakat di tengah situasi pandemi. Kondisi psikologis seseorang yang rapuh tersebut dapat melemahkan imunitas tubuh sehingga fisik menjadi rentan. Untuk itu, kesadaran akan pentingnya menjaga aspek psikologis di masa pandemi Covid-19 juga menjadi program penanganan Covid-19 Pemerintah Pusat maupun daerah.
Layanan Kesehatan Jiwa Pemprov DKI Jakarta
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta telah membuka layanan kesehatan jiwa (mental) terhadap masyarakat yang terdampak COVID-19. Dalam layanan ini, psikolog dan tenaga kesehatan jiwa di Puskesmas memberikan layanan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial melalui telepon dan chat (Whatsapp).
“Sampai dengan tanggal 16 November 2020, tercatat sebanyak 9.286 orang (OTG, ODP, PDP, maupun keluarganya) yang sudah mendapatkan layanan dukungan psikososial. Dari jumlah tersebut, 1.871 orang di antaranya atau sejumlah 20,15% mengalami kecenderungan masalah kejiwaan (kecemasan),” terang Widyastuti.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta juga memberikan layanan konsultasi online melalui aplikasi sahabat jiwa (berbasis website) pada situs https://sahabatjiwa-dinkes.jakarta.go.id/. Sahabat Jiwa merupakan kependekan dari Saluran Hatiku Berbasis Aplikasi Tentang Jiwa. Merupakan aplikasi konsultasi online kesehatan jiwa berbasis website yang dapat diakses oleh seluruh warga DKI Jakarta. Aplikasi ini merupakan hasil kolaborasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bersama Ibunda.id.
Fitur yang terdapat pada Sahabat Jiwa antara lain skrining deteksi dini gangguan kesehatan jiwa menggunakan aplikasi E-Jiwa dan Konseling Online (chatting) yang terhubung dengan tenaga kesehatan di Puskesmas. Terdapat pula informasi lokasi pelayanan kesehatan mental terdekat. Hingga November 2020, sebanyak 1.154 pengguna telah mengakses website Sahabat Jiwa, dengan jumlah akumulasi curhat dari pengguna sebanyak 907 konsultasi.
Dinas Kesehatan Provinis DKI Jakarta juga rutin mengadakan webinar tentang kesehatan jiwa dalam menghadapi pandemi COVID-19, dengan menghadirkan narasumber psikiater dan psikolog. “Kegiatan ini bertujuan untuk memompa motivasi dan semangat dari para tenaga kesehatan dalam menghadapi pandemi ini,” lanjut Widyastuti.
Sehat Mental Agar Produktif
Pentingnya aspek psikologis di masa pandemi juga sudah menjadi bahasan di kalangan masayarakat. Diskusi yang banyak digelar secara daring membahas bukan hanya soal pentingnya menjaga kesehatan mental untuk imunitas tubuh agar terhindar dari paparan virus Covid-19, namun juga mengarah pada pengaruhnya terhadap produktivitas di masa pandemi.
Psikolog sekaligus Presenter, Intan Erlita dalam sebuah Webinar yang digelar oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Sabtu (14/11/2020), mengungkapkan menurut World Health Organization (WHO) kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu dapat mewujudkan potensi dalam diri mereka sendiri. Seseorang dapat dikatakan sehat secara mental jika mempunyai ciri-ciri tertentu.
"Ciri-ciri dari kesehatan mental sendiri diantaranya yaitu ketika seseorang dapat mengatasi tekanan hidup secara normal, sehingga dapat bekerja dengan produktif, dan juga bermanfaat untuk lingkungan serta orang lain,"
Lebih lanjut, Intan turut membagikan tips untuk menjaga agar mental sehat dan tetap produktif yang bisa dilakukan sebagai bentuk self care atau upaya perawatan untuk diri sendiri.
"Bisa dimulai dengan berusaha menumbuhkan mindset yang sehat, kemudian membuat goal atau vision yang jelas, dan membuat skala prioritas. Selain itu yang tak kalah penting adalah memberikan rewards kepada diri sendiri, jangan takut gagal, serta memberi ruang diri sendiri untuk rileks," terang Intan.
Upaya menjaga mental agar sehat di masa pandemi perlu dilakukan untuk menumbuhkan optimisme bahwa masa ini akan bisa dilewati. Tentu diimbangi dengan kepatuhan menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah dan tetap produktif. Sehingga kesehatan pulih, ekonomi pun dapat bangkit.