AYOJAKARTA.COM – Dalam perang antara Rusia dengan Ukraina, nama Indonesia sempat terseret secara tidak langsung lewat seorang pecatan prajurit TNI bernama Satria Kumbara.
Sempat menjadi pembela setia Merah-Putih, Satria Kumbara justru diketahui ikut berperang di garis terdepan demi membela negara Rusia.
Mengaku karena terdesak urusan ekonomi dan mencari nafkah sesuai kemampuannya, keterlibatan Satria Kumbara dalam perang di negara lain sempat disorot warganet.
Akibat dari tindakannya tersebut, negara kemudian mencabut status kewarganegaraan Satria Kumbara sebagai bagian dari rakyat Indonesia.
Melalui unggahan videonya yang sempat tersebar luas di berbagai platform, Satria mengaku cukup kecewa dengan keputusan pemerintah Indonesia.
Selain menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang dianggap kurang aspiratif, Satria juga secara khusus menyampaikan kebenciannya kepada para Koruptor.
Menurut disersi TNI-AL tersebut, kehidupan rakyat Indonesia bisa menjadi lebih baik jika pergerakan dari para koruptor bisa benar-benar ditekan.
Atas pernyataannya tersebut, kalangan warganet menganggap sosok Satria sebagai Pejuang Keluarga yang kecewa karena kebijakan negara.
Pernyataan terkait pentingnya memperhatikan kebutuhan prajurit, juga sempat disampaikan oleh Pengamat Militer asal Universitas Nasional.
Menurut Selamat Ginting, disparitas kesejahteraan antara Perwira Tinggi dengan prajurit dapat membuat jurang pembeda.
Sebagai salah satu instrumen penting yang menjaga kedaulatan bangsa, negara menurut Slamet perlu hadir untuk memastikan kesejahteraan prajurit hingga keluarganya.
Baca Juga: Jadwal Lomba Drum Band Kejurda OPEN PDBI DKI Jakarta 2025, Saksikan Kemeriahannya!
Sehingga di masa mendatang, kemampuan kombatan yang dimiliki oleh setiap prajurit TNI tidak disalahgunakan untuk memenuhi keperluan pribadi.
Sempat dikabarkan tewas dalam salah satu kontak senjata dengan pasukan lawan, sosok Satria kembali membuat jagat maya terkesima.
Melalui sebuah unggahan video yang kini sedang beredar di sejumlah platform media sosial, Satria menyampaikan rasa penyesalannya kepada Indonesia.
Selain menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam, mantan penerima Baret Ungu Korps Marinir tersebut juga berharap bisa kembali ke Indonesia.
Lewat unggahan videonya, Satria secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden dan Wakil Presiden serta Menteri Luar Negeri.
Akibat ketidak-tahuannya menandatangani kontrak sebagai Tentara Bayaran, Satria menyesal karena harus kehilangan statusnya sebagai Warga Negara Indonesia.
Dalam unggahan videonya, Satria mengaku tidak memiliki niat sedikitpun untuk benar-benar menghianati Indonesia.
Sebelum berangkat untuk menjadi Tentara Bayaran, Satria mengaku masih sempat meminta restu kepada Orang Tua serta orang-orang terdekatnya.
“Saya datang kesini hanya mencari nafkah, Wakafa billahi syahida cukuplah Allah menjadi Saksi, saya mohon diizinkan kembali ke Indonesia,” ungkapnya dikutip Ayojakarta dari instagram @teraslotara. ***