KAPUAS HULU, AYOJAKARTA.COM - Rinto, seorang warga di Kecamatan Badau, daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat nekat berfoto dengan jarak dekat dengan pasien positif Covid-19. Itu dilakukannya lantaran ia ingin membuktikan ada ketimpangan pada masyarakat adat, serta tak mempercayai keberadaan corona.
"Saya kasihan dengan warga Badau yang dinyatakan positif Covid - 19 dan dikucilkan warga. Bahkan sempat mau dihukum adat sebesar Rp4 juta karena dianggap mengotori nama Badau. Saya tidak mau itu terjadi dan saya buktikan yang dianggap positif Covid-19 baik - baik saja, makanya saya datangi rumah mereka foto bersama dan ngobrol sama mereka," kata Rinto, Kamis (6/9/2020) lalu.
Alasan Rinto tak pervaya dengan corona karena menurutnya ada sejumlah warga yang sudah dinyatakan positif masih dalam keadaan sehat - sehat saja. Kondisi ini dalam istilah medis diklasifikasikan sebagai pasien tanpa gejala.
Dikatakan Rinto, akibat dari dinyatakannya ada warga Badau yang positif Covid-19 sangat berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat dari berbagai bidang.
"Kami minta tolong penjelasan petugas kesehatan dan bersihkan nama Badau, sebagai masyarakat awam terkait medis kami memang tidak tahu, tetapi memang fakta di tengah masyarakat rasa - rasanya Covid-19 itu tidak masuk akal," kata Rinto.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, Nazaruddin mengatakan pasien meninggal dunia akibat COVID - 19 di Indonesia ini di dominasi oleh mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Analisis sudah keluar, ternyata yang meninggal mereka yang memiliki penyakit penyerta. Orang-orang dengan penyakit ginjal risikonya saat ini sangat tinggi sekali terinfeksi.
Selain itu, penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti HIV dan lupus, juga memiliki risiko sama, termasuk penyakit jantung dan Diabetes Melitus yang merupakan penyakit penyerta berbahaya bagi Covid-19.
Menurut Nazaruddin, meski pun penyakit - penyakit tersebut kerap diidap oleh orang lanjut usia (lansia), tetapi tidak menutup kemungkinan mereka yang masih muda juga berpotensi terkena sehingga mudah terpapar Corona.
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat segera melakukan tes usap terhadap Rinto.
"Yang bersangkutan (Rinto, red.) akan diambil sampel 'swab' (tes usap), untuk memastikan apakah setelah kontak langsung dengan pasien COVID-19, yang bersangkutan tidak terjangkit Covid-19," kata Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kapuas Hulu, Moh Zaini di Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu kemarin.
Ia mengatakan terkait dengan rencana tes usap tersebut, tim gugus tugas kabupaten sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar petugas kesehatan di Kecamatan Badau.
Langkah tim mengacu kepada Inpres Nomor 6 Tahun 2020 yang sudah ditindaklanjuti dalam Perbup Nomor 57 Tahun 2020 terkait dengan penerapan disiplin protokol kesehatan.
Dia mengatakan Covid-19 sebagai pandemi global dengan tidak sedikit petugas medis dan masyarakat meninggal akibat virus corona jenis baru itu.
"Nasional dan internasional sudah menyatakan fakta adanya virus Covid- 19, dokter saja meninggal karena COVID-19," kata Zaini.
Bupati Geram
Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir geram saat ada warganya yang foto bareng pasien positif corona. Nasir menegaskan, corona tak haya ada di Indonesia, namun sudah mendunia.
"Pemerintah sangat serius untuk menanggulangi wabah Covid-19 dari mana lagi dibilang virus itu tidak ada, segala anggaran pemerintah juga terfokus untuk penanganan Covid-19, tenaga dan pikiran terkuras mengurus virus itu, bahkan tidak sedikit orang sudah meninggal gara-gara Covid-19. Jadi jangan dianggap sepele," katanya.
AYO BACA : Faktor Ekonomi Jadi Alasan Pemkot Bekasi Tak Berlakukan Jam Malam