Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-1989-
BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Siapa yang tak mengenal puisi fenomenal tersebut? 'Aku Ingin' adalah salah satu karya terbaik dari Sapardi Djoko Damono pada tahun 1989 yang masuk dalam buku kumpulan puisi berjudul "Hujan di Bulan Juni".
Selama perjalanan kariernya, Sapardi banyak dikagumi. Di ranah sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono mempunyai peran penting lantaran berhasil menciptakan rasa berbeda dalam kesusasteraan Indonesia.
Sang pujangga besar ini memang tidak lagi diragukan kemahirannya dalam meracik kata. Buktinya, perkembangan jelas itu muncul dalam karya Sapardi terutama dalam susunan formal puisi-puisinya. Dalam setiap karyanya, Sapardi seolah menuntun puisi untuk lebih lekat, sekaligus melucuti kesan asing dalam puisi. Berkatnya, puisi menjadi asyik, syahdu, dekat, sekaligus penuh dengan romantisme.
Pilihan kata yang ringan nan sederhana di tangannya dibentuk hingga memunculkan imajinasi luar biasa. Pemaknaan karyanya pun begitu dalam, luas, dan tak lapuk dimakan waktu.
Maka tak aneh, bila dalam buku Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi digambarkan sebagai penyair yang dianggap orisinal dan kreatif.
Dalam kesusasteraan Indonesia, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono seperti Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), hingga Serta Ayat-ayat Api (2000) menjadi bukti karya yang membius kesusastraan Tanah Air.
Sapardi berhasil mendekatkan puisi pada siapa pun. Tidak hanya bagi pengkaji atau pencinta sastra, tetapi juga bagi kaum yang tidak biasa bersua dengan kata.Tak tanggung-tanggung, coretan sosok penyair, dosen, pengamat sastra, kritikus sastra dan pakar sastra itu sudah dikenal di dalam dan luar negeri.
Pada 1963 Sapardi mendapat Hadiah Majalah Basis atas puisi Ballada Matinya Seorang Pemberontak. Pada 1978 ia menerima Cultural Award dari pemerintah Australia. Pada 1983, ia memperoleh hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II atas bukunya Sihir Hujan dari Malaysia. Pada 1984 Dewan Kesenian Jakarta memberi penghargaan atas buku Perahu Kertas, dan masih banyak lagi.
Namun kini, sastrawan besar itu telah berpulang. Sang maestro telah mengembuskan napas terakhir pada usia 80 tahun. Minggu (19/7/2020) pagi, kabar duka itu tiba, sang pujangga itu mangkat ke haribaan Sang Pencipta dari ruang perawatannya di RS Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.
Meski telah berpulang, tulisan dan karya-karyanya tentu akan terus ada dan abadi. Meski fisiknya tak lagi hadir di bum, namun jasanya yang tak terhitung bagi sastra Indonesia akan tetap melegenda.
Selamat Jalan Sapardi Djoko Damono, selamat jalan Sang Maestro..(Eneng Reni)