Nasional

Gaya Hidup Alternatif, Minat Bersepeda Meningkat Tajam selama Pandemi Covid-19

Oleh: Admin Jumat 19 Jun 2020, 16:22 WIB
Warga bersepeda dijalur khusus sepeda Jalan Aceh, Kota Bandung, Jumat (12/6/2020). Merespons banyaknya warga yang bersepeda di tengah pandemi Covid-19. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM --  Semenjak pandemi Covid-19, minat masyarakat dalam bersepeda meningkat tajam. Tren bersepeda ini muncul di semenjak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Salah satu pemilik toko sepeda di Jalan Veteran, Kota Bandung, Yanti mengungkapkan, permintaan sepeda sangat tinggi sejak pandemi Covid-19. Bahkan Yanti mengungkapkan, penjualan sepeda di tokonya bisa meningkat 3 kali lipat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. 

Dalam sehari, dirinya bisa menjual hingga 30 unit sepeda selama pandemi Covid-19. Adapun sebelum pandemi, jumlah unit sepeda lipat yang terjual hanya sekitar 10 unit perhari

"Trennya selama pandemi covid-19 ini memang meningkat tinggi, sekitar hampir 3 kali lipat dari biasanya. Yang biasanya maksimal 10 unit sepeda, sekarang sampai bisa 30 unit sepeda sehari," kata Yanti saat ditemui Ayobandung.com di tokonya, Jumat (19/6/2020).

Yanti mengungkapkan, jenis sepeda lipat atau Folding mendapat permintaan tinggi di kalangan masyarakat saat ini. Dia menyebut, jenis sepeda ini banyak dicari lantaran modelnya yang simpel dan masuk ke berbagai kalangan usia.

"Jenis sepeda yang paling dicari sekarang folding karena folding itu selain simpel juga mudah dibawa ke mana-mana. Kedua, dia juga bisa dipakai semua kalangan, semua umur. Dari mulai anak-anak sampai ke dewasa, sampai orang tua juga bisa," katanya.

Untuk kisaran harga jenis sepeda folding ini, Yanti menyediakan sepeda dengan kisaran harga bervariasi. Mulai dari harga Rp2 juta hingga di atas Rp5 Juta per unitnya.

"Untuk kisaran harga yang saat ini ada di pasaran dari Rp 2 juta sampai Rp 3 juta itu buat jenis folding. Kalau folding juga kita ada range yang sampai harga di atas Rp5 juta juga ada. Tapi memang peminatnya gak sebanyak seperti yang harga Rp1,5 juta sampai Rp3 jutaan," ungkap Yanti.

Yanti menilai, lonjakan permintaan sepeda itu terjadi sejak berakhirnya masa Penerapan Sosial Berskala Besar (PBB) skala penuh yang dilakukan pemerintah pada 29 Mei lalu. Lambat-laun dari waktu tersebut permintaan sepeda kian tinggi hingga saat ini.

"Waktu spesifik adanya peningkatan penjualan ini sejak awal Juni. Setelah lebaran sama setelah PBB yang pertama yang sampai 29 Mei, beres yang itu dari situ kan mulai ada New Normal dari pemerintah, dari sana mulai.

Yanti juga menyampaikan, pembeli sepeda di tokonya merupakan masyarakat dari berbagai daerah di Bandung Raya. Mulai dari Subang, Sumedang, sampai Padalarang.

"tapi jujur, peningkatan ini sebenernya apa ya? Ini kan kita sejak awal corona banyak tutup karena pemerintah melarang kita buka juga. Jadi sejak mal tutup, kita juga ikut tutup. Kayaknya ini akumulasi dari sekian bulan gak jualan, kita akhirnya dampaknya seperti ini," ucap Yanti.

Meski begitu, Yanti berharap tren masyarakat yang memilih bersepeda sebagai olahraga alternatif selama masa Covid-19 bisa tetap membawa berkah tersendiri bagi pemilik toko sepeda. Namun dia juga berharap, pandemi virus Corona ini bisa segera berakhir dan masyarakat selalu mengutamakan kesehatan.

"Harapan sih penjualan sepeda tetap bisa ramai aja dan semua warga bisa sehat selalu. Dengan adanya bersepeda semangat olahraga tinggi untuk sehat semua," ujarnya.

Hidup Sehat

Tahun 2020 menjadi tahun masyarakat harus semakin mendalami cara hidup sehat. Baik itu dari makanan yang dikonsumsi, aktivitas sehari-hari, hingga olahraga. Hal ini tak lepas kaitannya dengan pandemi Covid-19 yang mengubah pola hidup masyarakat.

Praktis, hidup sehat menjadi pilihan masyarakat, pada saat masa transisi bahkan ketika New normal diberlakukan. Untuk menjaga kesehatan dan imunutas, masyarakat Kota Bandung sebagian besar memilih bersepada menjadi gaya hidup mereka. Tak terkecuali bagi Beben warga Antapani, Kota Bandung.

Beben mengakui, olahraga bersepada menjadi primadona dan tren gaya hidup baru masyarakat di saat pandemi Covid 19 ini. Buktinya, setiap hari di ruas Jalan Kota Bandung banyak masyarakat bersepeda untuk berolahraga sekaligus mengobati bosan selama pandemi masih berkecamuk.

"Tren ini lumayan juga lah, cukup jadi gaya hidup sehat baru masyarakat bandung. Cukup sehat dengan bersepeda," kata Beben kepada Ayobandung.com.

Selama pandemi Covid-19 ini, Beben mengakui, dirinya sengaja membeli tiga unit sepeda untuk keluarga kecilnya.  Pasalnya, sebelum ada pandemi, dirinya dan keluarga selalu membiasakan diri berolahraga di kompleks olahraga terpadu, sport Jawa Barat, di Arcamanik, Kota Bandung. Namun lantaran masa PSBB belum berakhir, dirinya mencari alternatif lain untuk tetap sehat.

"Hobi bersepeda sih enggak terlalu, cuman sekarang lagi banyak aja yang bersepeda jadi ikut tren. Salah satu cara pengganti agar tetep bisa olahraga juga. Karena sekarang sport Jabarnya ditutup jadi kan gak bisa olahraga, jadi sementara pakai sepeda dulu. Jadi saya beli tiga, buat istri, saya, sama anak. Kemarin baru beli, sekarang yang ketiga buat istri" ungkapnya.

Meski sekadar olahraga alternatif selama pandemi, Beben berharap masyarakat bisa menganggap bersepeda sebagai gaya hidup baru untuk terus diterapkan hingga masa yang akan datang. "Cuman ini kan musiman, gak tau bertahan berapa lama. Karena lagi tren ngobatin bosan selama di rumah aja," ujarnya. (Eneng Reni)

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono