SOREANG, AYOJAKARTA.COM -- Akhir-akhir ini marak penjualan telur di pinggir jalan dengan harga miring. Biasanya penjualan dilakukan di dalam mobil yang disulap menjadi warung dadakan.
Pemandangan tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Bandung saja, melainkan di beberaa kota/kabupaten juga ditemui pedagang telur dengan harga murah dibanding harga pasaran.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, telur yang dijual di pinggir jalan tersebut diduga merupakan telur infertil atau telur yang diperuntukan bagi DOC (Day Old Chick) bagi peternak ayam.
"Akhir-akhir ini banyak peternak berskala besar penghasil DOC untuk suplai peternak yang sengaja tidak menetaskan telurnya. Karena kalau dijadikan DOC biaya produksinya lebih tinggi, tidak sebanding dengan harga," tutur Tisna, Kamis (17/6/2020).
Biasanya telur infertil tersebut ditetaskan untuk dijadikan DOC dan dijual kepada peternak. Namun, beberapa waktu lalu harga DOC merosot tajam akibat pandemi Covid-19.
"Harga DOC kemarin sempat jatuh. Kalau dipaksakan ditetaskan, peternak akan rugi. Sebenarnya pemerintah telah mengimbau agar telur infertil itu dijadikan bantuan, baik untuk dapur umum gugus tugas atau diberikan langsung kepada masyarakat sebagai CSR. Tapi ternyata malah dijual," paparnya.
Berbeda dengan telur biasa, telur infentir memiliki daya simpang terbatas, sehingga harga yang dilempar juga dibawah standar. Pemerintah sebenarnya telah melarang telur infertil dijual ke pasar, karena dianggap akan merusak harga.
"Ada Peraturan Mentan mengenai larangan penjualan telur infertil," ujarnya.
Dengan adanya Permentan kata Tisna, Satpol PP atau Disperindag bisa melakukan penertiban.
Matikan Pedagang Pasar
Sementar itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung mengkhawatirkan keberadaan penjual telur di pinggir jalan.
Kepala Disperindag Kabupaten Bandung Popi Hopipah mengatakan, keberadaan pedagang telur pinggir jalan mengancam pedagang pasar.
"Jujur, selama ini kami fokus penanganan Covid-19, jadi kami belum melakukan tindakan terhadap penjualan telur di pinggir jalan," tutur Popi, Kamis (18/6/2020).
Dalam waktu dekat kata Popi, akan melakukan penindakan membereskan keberadaan penjual telur di pinggir jalan.
"Akan kami bereskan. UPTD akan dikerahkan untuk penertiban secepatnya. Jangan sampai keberadaan mereka mematikan pedagang telur di pasar," ujarnya.
"Harganya terlalu murah. Misalnya jika di pasar Rp20.000/kg, di sana hanya Rp14.000-Rp16.000/ kg, jelas akan mematikan pedagang pasar," imbunya.
Popi melanjutkan, karena pihaknya masih konsentrasi penanganan covid-19, pihaknya belum mencari tahu asal telur yang dijual di pinggir jalan dengan harga miring tersebut.
"Tidak tahu dari mana asalnya sehingga bisa menjual harga dibawah pasar. Saya juga tahu-tahu sudah ada saja. Makanya khawatir bisa mematikan pedagang pasar," tutupnya. (Mildan Abdalloh)