Nasional

Wabah Corona, TPU di Cirebon Masih Ramai Peziarah

Oleh: Admin Minggu 24 Mei 2020, 15:47 WIB
-Sejumlah warga nyekar di TPU Kemlaten, Kota Cirebon, pada hari pertama Idulfitri. (Ayocirebon/Erika Lia)

CIREBON, AYOJAKARTA.COM – Suasana berbeda dirasakan masyarakat saat merayakan Lebaran 1441 H di tengah wabah virus corona.

Salah satu tradisi Lebaran selain bersilaturahmi ke sanak saudara, yakni ziarah kubur untuk keluarga yang sudah meninggal. Sebagian warga masih mengikuti tradisi ziarah kubur kendati di tengah wabah virus corona.

Keramaian peziarah salah satunya terlihat di TPU Kemlaten, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Beberapa makam terlihat dikerubungi peziarah. Bunga dan tanaman wangi seperti daun kemangi menghiasi bagian atas kuburan.

Beberapa peziarah mengaku, sekalipun Covid-19 masih mewabah dan pemerintah telah menganjurkan untuk tetap berlebaran di rumah, ziarah kubur harus dilakukan secara langsung.

"Gimana ya, saya merasa wajib datang langsung kemari untuk kirim doa," kata Erni, seorang peziarah yang datang ke TPU Kemlaten.

Dia tak menampik, doa bagi yang telah berpulang sejatinya dapat dilakukan di mana saja dan dalam kesempatan apa pun.

Namun, dia merasa tak bisa begitu saja mengabaikan tradisi ziarah kubur setiap Idulfitri.

"Lagipula, saya tetap pakai masker. Sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan banyak orang," ujarnya yang datang ziarah bersama sejumlah anggota keluarganya.

Di antara pusara di Kemlaten, terselip sejumlah pedagang bunga dan orang-orang yang memberikan jasa menyapu area makam.

Selain itu, ada pula pedagang mainan anak-anak dan makanan yang memanfaatkan keramaian untuk meraih pembeli.

Salah seorang pedagang bunga, Siti Rohmah (29), mengatakan, TPU Kemlaten telah ramai peziarah sejak pagi.

Namun begitu, keramaian tahun ini tak sebanding tahun-tahun sebelumnya akibat Covid-19 .

"Tahun kemarin sampai padat, orang mau jalan aja susah. Sekarang mah sepi," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi itu setidaknya terasa dari penghasilan bunga yang dia raih. Tahun lalu, hingga sebelum pukul 12.00 WIB, Siti mampu meraup sekitar Rp250.000.

"Tahun ini, sudah mau Zuhur, baru dapat Rp100.000," tuturnya seraya menyebut harga bunga yang dijualnya Rp5.000/bungkus.(Erika Lia)

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono